SARIBERITA.ID, Berhenti merokok ternyata bukan sekadar persoalan niat atau kemauan yang lemah. Dokter sekaligus edukator kesehatan menjelaskan bahwa kandungan nikotin dalam rokok dapat membentuk pola kebiasaan di otak sehingga membuat seseorang mengalami keinginan kuat (craving) untuk kembali merokok, meski sudah berkali-kali berusaha berhenti.
Menurut penjelasan dr. Mario Johan, kebiasaan merokok umumnya telah melekat dengan berbagai aktivitas sehari-hari, seperti setelah makan, saat minum kopi, atau ketika menghadapi tekanan. Akibatnya, otak secara otomatis menghubungkan momen-momen tersebut dengan rokok, sehingga muncul dorongan untuk merokok kembali ketika rutinitas itu dilakukan.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak perokok merasa gagal saat mencoba menghentikan kebiasaan merokok. Padahal, kegagalan itu tidak selalu disebabkan kurangnya tekad, melainkan karena tubuh telah mengalami ketergantungan terhadap nikotin yang memengaruhi sistem saraf dan mekanisme penghargaan di otak.
Saat seseorang berhenti merokok, kadar nikotin di dalam tubuh akan menurun sehingga memicu gejala putus nikotin atau withdrawal. Gejala ini dapat berupa rasa gelisah, sulit berkonsentrasi, mudah marah, hingga keinginan kuat untuk kembali merokok. Kondisi tersebut sering menjadi alasan utama seseorang kembali mengonsumsi rokok.
Untuk meningkatkan peluang berhenti merokok, tenaga medis menyarankan penggunaan Nicotine Replacement Therapy (NRT) atau terapi pengganti nikotin. Terapi ini memberikan asupan nikotin dalam dosis terukur tanpa melalui pembakaran tembakau, sehingga membantu mengurangi gejala ketergantungan dan keinginan merokok.
Berdasarkan data medis yang dipaparkan, kombinasi antara kemauan kuat dengan penggunaan NRT dapat meningkatkan peluang keberhasilan berhenti merokok hingga dua kali lipat. Hasil tersebut bahkan dapat menjadi lebih baik apabila disertai pendampingan dari tenaga kesehatan yang memberikan konsultasi serta pemantauan secara berkala.
Kementerian Kesehatan juga mengingatkan bahwa berhenti merokok memberikan manfaat besar bagi kesehatan. Selain menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, kanker, dan gangguan paru-paru, tubuh akan mulai memperbaiki fungsi organ secara bertahap sejak beberapa jam setelah seseorang berhenti merokok.
Para ahli berharap masyarakat tidak mudah menyerah apabila mengalami kegagalan saat mencoba berhenti merokok. Dengan memahami penyebab ketergantungan nikotin, memanfaatkan terapi yang tepat, serta memperoleh dukungan dari keluarga dan tenaga medis, peluang untuk terbebas dari kebiasaan merokok dapat meningkat sehingga kualitas kesehatan dan harapan hidup menjadi lebih baik.[SB.09/Ranti]


.jpeg)


0 Komentar