SARIBERITA.ID Memasuki hari kedua pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), para penyintas bencana yang mengungsi dari Desa Tunggu Rambang mengeluhkan lambatnya pelayanan dan perhatian dari pemerintah daerah setempat.
Di salah satu tenda pengungsian yang didirikan di kawasan Kota Mbai, sejumlah pengungsi terpaksa bertahan dengan kondisi seadanya. Mereka mengalami krisis kebutuhan dasar yang mendesak, mulai dari kekurangan bahan makanan, air bersih, kelangkaan obat-obatan, hingga ketiadaan selimut.
Ketiadaan fasilitas dapur umum serta peralatan memasak di lokasi pengungsian membuat situasi semakin memburuk, di mana sejumlah kelompok rentan seperti warga lanjut usia (lansia) dilaporkan mengalami kelaparan. Penderitaan para pengungsi semakin bertambah saat malam hari tiba. Akibat tidak adanya bantuan selimut, warga, termasuk balita dan bayi, terpaksa harus tidur menahan cuaca dingin ekstrem.
Kondisi tenda yang tidak nyaman dan suhu yang dingin ini berdampak fatal. Berdasarkan keterangan warga setempat, seorang lansia dilaporkan meninggal dunia setelah sebelumnya sempat dievakuasi ke rumah kerabat terdekat akibat kondisi kesehatannya yang terus menurun selama di pengungsian.
Salah seorang warga pengungsi dari Desa Tunggu Rambang (nama spesifik tidak disebutkan dalam tayangan) menceritakan penderitaan yang mereka alami di tenda pengungsian.
"Bukan hanya lansia, tapi semua kedinginan. Jadi yang paling kami butuhkan itu selimut. Tadi malam kami tidur kedinginan sekali, terus saat ada guncangan (gempa susulan) kami mau lari tapi di luar gelap. Kami tetap diam karena gelap," ungkap perwakilan warga tersebut.
Warga itu juga memberikan kesaksian terkait lansia yang meninggal dunia usai berada di tenda darurat.
"Bapak yang meninggal juga karena kena dingin. Waktu pertama kali di sini dia tidur kedinginan, lalu dipindah ke keluarga dan kemarin dia meninggal. Di sini dia tidak nyaman, mengeluh panas, pilek, dan tidak bisa tidur," tambahnya.
Hingga berita ini dilaporkan, para warga yang bertahan di tenda pengungsian Kota Mbai menyatakan bahwa bantuan logistik krusial seperti selimut belum sama sekali didistribusikan ke posko mereka.
[SB.103/Ris]





0 Komentar