SARIBERITA.ID Fenomena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini kembali menjadi perhatian serius di Indonesia. Tidak hanya berfokus pada kawasan Savana Bromo, api ternyata juga melahap sejumlah kawasan konservasi lain secara serentak pada musim kemarau kali ini.
Setidaknya tercatat ada lima kawasan konservasi yang mengalami kebakaran bertepatan pada bulan Agustus ini, yakni Savana Bromo, Taman Nasional Baluran di Situbondo, Gunung Soputan di Sulawesi Utara, Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat, dan Gunung Rinjani di Lombok.
Terkait titik awal kebakaran yang ramai diperbincangkan, yakni Bromo, titik api pertama terdeteksi di Blok Savana pada tanggal 3 Agustus lalu. Kondisi ini kemudian meluas dengan cepat dipicu oleh kemarau panjang, angin kencang, aktivitas manusia tanpa izin, serta efek embun upas (frost) yang menyebabkan rumput mengering ekstrem layaknya sekam kering. Dari luasan 60 hektare pada 5 Agustus, api merambat drastis menjadi 520 hektare pada 8 Agustus, memaksa seluruh pintu masuk wisata Bromo ditutup total hingga pertengahan bulan. Medan curam dengan kemiringan 70 derajat pun menjadi tantangan pemadaman darat, sehingga operasi water bombing menggunakan helikopter perlu dikerahkan.
Pola kebakaran yang terjadi secara serentak ini ditangani dengan pengerahan personel berskala besar. Berdasarkan data rekapitulasi, hampir 900 personel gabungan dari berbagai unsur diturunkan secara nasional untuk menjinakkan api di kelima kawasan konservasi tersebut.
Jika dilihat pada skala nasional yang lebih luas, kebakaran di lima titik ini baru sebagian kecil dari total kasus karhutla. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) dari Kementerian Kehutanan, total luasan karhutla dari periode Januari hingga Juni telah menembus angka 107.465 hektare. Angka tersebut naik hingga dua kali lipat jika dibandingkan dengan luasan pada bulan Maret lalu. Provinsi Kalimantan Barat menjadi wilayah paling terdampak, disusul oleh Riau dan Nusa Tenggara Timur. Sementara itu, Jawa Timur, di mana Bromo berada, menyumbang angka kebakaran hingga mendekati 3.000 hektare.
Akibat meluasnya skala kebakaran, khususnya di pulau Kalimantan dan Sumatera, sebaran asap dilaporkan telah menyeberang melintasi perbatasan negara dan berdampak ke negeri jiran, Malaysia. Hal ini kembali memicu keluhan resmi karena indeks kualitas udara wilayah timur Malaysia tercatat masuk ke dalam kategori tidak sehat.
Terkait dengan masuknya asap lintas batas ini, Wakil Menteri Perhubungan Sarawak, Datuk Henry Harry Jine, turut memberikan tanggapannya. "Ini bukan masalah yang terjadi sekali waktu saja, ini terjadi hampir setiap tahun dan sebagian besar berasal dari seberang perbatasan, karena aktivitas di luar kendali kami," ungkapnya.
Menanggapi permasalahan asap lintas batas tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa citra satelit memang mendeteksi penyeberangan asap menuju wilayah Malaysia, utamanya dari perbatasan Kalimantan Barat pada kurun waktu tanggal 4, 6, dan 9 Agustus. Namun di sisi lain, ditegaskan pula bahwa tidak seluruh kabut asap yang menyelimuti Sarawak sepenuhnya bersumber dari Indonesia.
Untuk menekan laju karhutla, pemerintah Indonesia di tingkat nasional telah mengambil langkah cepat dengan mengaktifkan kembali desk koordinasi penanganan Karhutla di bawah Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polkam). Status siaga darurat juga sudah diberlakukan pada enam provinsi rawan, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Di lapangan, operasi teknologi modifikasi cuaca dan water bombing terus diprioritaskan, meski efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh ketersediaan awan penyemai hujan. Sementara itu, Kementerian Kehutanan juga menggencarkan patroli terpadu guna menjaga garis perbatasan agar kebakaran tidak kembali meluas dan meminimalisasi penyebaran asap lintas negara.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar