SARIBERITA.ID – Musim kemarau ekstrem yang melanda tanah air mulai memicu krisis air bersih dan ancaman pada sektor ketahanan pangan, khususnya di wilayah Jawa Barat. Hamparan lahan pertanian kini tampak retak dan kering kerontang. Akibat menipisnya sumber air, warga terpaksa berebut air bersih di tengah ancaman puncak musim kemarau.
Kondisi memprihatinkan ini salah satunya terlihat di kawasan Cibarusah, Jawa Barat. Sejak sebulan terakhir, wilayah ini dilanda kekeringan parah. Bagi para warga, musim kemarau kali ini dirasa jauh lebih berat dari biasanya. Minimnya pasokan air membuat warga terpaksa turun dan mencari sisa-sisa air dari aliran sungai yang sudah mengering.
Salah seorang warga sekitar, Eci, menuturkan bahwa kondisi kekeringan yang melanda desanya sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Menurutnya, tanah mulai mengering dan krisis air sudah dirasakan sejak bulan Juni.
Perjuangan berat juga harus dilalui oleh Suawaeni, warga yang juga merupakan seorang peternak. Demi menyambung hidup dan merawat hewan ternaknya, ia harus rela menempuh perjalanan yang sangat jauh. Ia mengeluhkan betapa sulitnya mencari rumput dan air di masa kemarau ini. Suawaeni bahkan harus menggembala dan mencari pakan dari kawasan Bekasi hingga mencapai wilayah perbatasan Bogor.
Fenomena kekeringan ini terjadi tepat menjelang puncak musim kemarau tahun 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa lebih dari 76 persen wilayah Indonesia saat ini tengah menghadapi ujian kemarau panjang. Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya fenomena El Nino yang membuat udara menjadi kian kering.
Di balik bencana kekeringan ini, ketangguhan warga untuk terus bertahan hidup menjadi potret nyata tentang harapan yang tidak pernah ikut mengering. Di sisi lain, pemerintah juga dituntut untuk segera bersiap dan mengambil langkah antisipatif guna menghadapi dampak lanjutan dari krisis iklim ini, terutama dalam hal menjaga stabilitas dan ketahanan pangan nasional.[SB.104/Pebri]




0 Komentar