SARIBERITA.ID - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa kegiatan belajar mengajar bagi anak-anak di wilayah terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak boleh berhenti. Sebagai langkah tanggap darurat, pemerintah tengah menyiapkan tenda-tenda yang akan difungsikan sebagai ruang kelas sementara untuk memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi di tengah kondisi bencana.
Penegasan tersebut disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto saat memimpin rapat koordinasi di Batalion TP834 yang berlokasi di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Dalam rapat evaluasi penanganan bencana tersebut, Presiden secara khusus menyoroti keberlanjutan pendidikan anak-anak korban gempa karena sejumlah bangunan sekolah dilaporkan mengalami kerusakan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Presiden Prabowo menginstruksikan adanya penambahan tenda darurat yang dapat dimanfaatkan segera sebagai ruang kelas sementara.
"Sementara sekolah tidak boleh berhenti, ya. Jadi tambah tenda, mau tenda oranye, mau hijau, mau putih," tegas Presiden Prabowo memberikan arahan langsung kepada jajarannya agar segera menindaklanjuti kebutuhan sarana belajar.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, memberikan laporan tindak lanjut kepada Presiden terkait pemenuhan fasilitas darurat pendidikan tersebut. Suharyanto melaporkan bahwa pihak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyiapkan tenda-tenda khusus untuk sekolah.
"Tenda tersebut saat ini dalam proses pengiriman ke wilayah terdampak," jelas Suharyanto.
Lebih lanjut, Suharyanto menjelaskan bahwa sembari menunggu tenda khusus dari Kemendikdasmen tiba di lokasi, tenda-tenda pengungsi milik BNPB akan dimodifikasi dan dimanfaatkan terlebih dahulu sebagai ruang belajar sementara bagi para siswa.
Dalam diskusi terkait kapasitas tenda darurat yang akan dijadikan ruang kelas, disebutkan bahwa satu tenda pleton dari aparat bisa menampung sekitar 30 orang anak. Sementara itu, tenda berukuran lebih besar milik BNPB diproyeksikan mampu menampung sekitar 40 hingga 50 orang anak untuk proses belajar mengajar darurat.
Melalui langkah-langkah cepat dan taktis ini, pemerintah berharap proses pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik dan logistik semata, namun juga menjamin masa depan generasi muda melalui akses pendidikan yang tidak terputus.[SB.104/Pebri]




0 Komentar