Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Survei SMRC Juli 2026: Prabowo Subianto Terpuruk, Dedi Mulyadi Unggul Mutlak Jika Pemilu Digelar Saat Ini


 JAKARTA – Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil temuan terbarunya mengenai peta elektabilitas calon-calon presiden pada Juli 2026. Hasilnya mengejutkan; elektabilitas Presiden Prabowo Subianto sebagai petahana merosot tajam, sementara posisinya disalip dan tertinggal jauh oleh Dedi Mulyadi.

Temuan tersebut dipaparkan secara langsung oleh Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, bersama dengan Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad, dalam tayangan rilis survei terbarunya.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa dalam simulasi semi-terbuka yang menyodorkan 20 nama tokoh kepada responden, nama Dedi Mulyadi merajai posisi puncak.

"Kita memperoleh di urutan pertama itu Dedi Mulyadi dengan 35 persen. Kemudian yang kedua, Prabowo Subianto sebesar 14,5 persen. Jaraknya ini sangat signifikan, yakni sekitar 20 persen," ungkap Deni.

Selisih elektabilitas tersebut dinilai meyakinkan karena jauh melampaui batas perbedaan signifikan secara statistik, yakni sebesar 7,4 persen (dua kali dari margin of error 3,7 persen).

Posisi ketiga ditempati oleh Anies Baswedan dengan 8,2 persen, menyusul Gibran Rakabuming Raka (7,7 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (4,9 persen), Ganjar Pranowo (4,2 persen), dan Mahfud MD (4 persen). Nama-nama tokoh lain mencatatkan elektabilitas di bawah 2 persen, sementara sebanyak 12,8 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan.

Dominasi Dedi Mulyadi atas sang petahana tampak semakin absolut dalam simulasi head-to-head atau pertarungan dua nama. "Jika seandainya hanya dua nama yang maju sebagai calon presiden, Dedi Mulyadi meraih 59 persen dukungan, sementara Prabowo Subianto hanya 28 persen. Artinya, kalau pemilu digelar sekarang, Dedi Mulyadi akan menang melawan petahana," papar Deni.

Peneliti SMRC, Saidiman Ahmad, turut menyoroti pergerakan tren elektabilitas yang berubah drastis dalam 9 bulan terakhir.

Menurut catatan SMRC, pada November 2025 Prabowo masih unggul dengan 34,9 persen berbanding 19,7 persen untuk Dedi Mulyadi. Namun memasuki Juli 2026, kondisinya berbalik total (terjungkal ke 14,5 persen), sementara Dedi Mulyadi melesat tajam (ke 35 persen).

Merespons anjloknya suara petahana, Deni Irvani menjelaskan bahwa fenomena elektoral ini mengonfirmasi teori economic voting. Penurunan suara Prabowo berjalan paralel dengan memburuknya evaluasi publik terhadap kinerja presiden, kondisi ekonomi, situasi politik, serta penegakan hukum.

"Elektabilitas Prabowo yang menurun drastis memiliki pola yang serupa dengan evaluasi publik terhadap kinerja Presiden yang anjlok dari 81 persen menjadi 51 persen. Penurunan sentimen positif terhadap program andalannya, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), turut berdampak langsung menggerus elektabilitasnya," terang Deni.

Lewat analisis tabulasi silang (cross-tabulation), SMRC membuktikan bahwa warga yang merasa ekonomi dan penegakan hukum sedang dalam kondisi buruk secara mayoritas menghukum petahana dan mengalihkan dukungannya kepada figur alternatif, yakni Dedi Mulyadi (meskipun Dedi juga berasal dari partai yang sama).

Lebih jauh, Deni memaparkan bahwa kejatuhan suara Prabowo di dua tahun pertama pemerintahannya ini merupakan sebuah anomali jika disejajarkan dengan presiden pendahulunya.

Sebagai perbandingan, elektabilitas Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di dua tahun pertama pemerintahannya cenderung sangat stabil di kisaran 40 hingga 44 persen. Sementara elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) justru mengalami penguatan dari 31 persen naik ke 44 persen di awal masa jabatannya.

"Sebaliknya, Pak Prabowo malah menurun dari 35 persen ke 15 persen. Polanya berbeda sendiri, beliau cenderung menjadi petahana dengan elektabilitas paling lemah di masa awal 2 tahun pemerintahan dibanding pendahulunya," ucap Deni.

Keterpurukan ini tidak hanya mengenai figur sang Presiden, melainkan juga menimpa kendaraan politiknya. Penurunan performa dan dukungan ini mengakibatkan efek domino bagi Partai Gerindra, di mana elektabilitas partai tersebut ikut anjlok dari 29 persen pada Februari-Maret 2026 menjadi 15 persen di bulan Juli 2026.

Menutup rilis tersebut, Saidiman menyimpulkan bahwa ketidakpuasan publik menjadi pemicu utama eksodusnya suara dukungan. "Mereka yang kurang puas dan kritis terhadap keadaan ekonomi, politik, maupun hukum, kini lebih banyak beralih mendukung Dedi Mulyadi sebagai tempat menampung keresahan mereka," tutup Saidiman.

Sebagai informasi: Survei SMRC ini dilaksanakan pada 5 hingga 19 Juli 2026. Populasi survei adalah WNI berusia 17 tahun ke atas atau yang sudah menikah. Pengambilan data melibatkan gabungan wawancara telepon (double sampling sebanyak 605 orang) serta wawancara tatap muka (stratified multistage random sampling). Margin of error survei tercatat sebesar kurang lebih 3,7 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. [SB.23]**

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital