Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Pemerintah Resmi Luncurkan Gerakan Nasional RANA, Wujudkan MPLS dan Lingkungan Sekolah Ramah Anak 2026


MALANG
– Pemerintah Indonesia melalui kolaborasi lintas kementerian resmi meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman Anak (Gernas RANA) di satuan pendidikan pada Senin, 13 Juli 2026. Peluncuran yang bertepatan dengan momentum Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 ini diselenggarakan secara hybrid dan berpusat di BBPMPV BOE, Kota Malang, Jawa Timur.

Acara peluncuran tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta jajaran kepala daerah se-Malang Raya.

Empat Ruang Aman bagi Anak Dalam arahannya, Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa pendidikan yang tinggi tidak akan berdampak maksimal jika anak tidak sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. Ia menjabarkan empat ruang aman dan nyaman yang harus dijaga dan diwujudkan bersama untuk anak-anak, yaitu Ruang di dalam keluarga, Satuan pendidikan (sekolah, madrasah, pesantren, dll), Ruang publik dan Ruang digital.

Pratikno juga memberikan peringatan keras kepada para orang tua terkait penggunaan teknologi. "Sering kali orang tua tidak sabar menghadapi anak, kemudian menjadikan gawai (gadget) sebagai babysitter. Jika anak tidak mau makan atau menangis (tantrum), langsung diberi HP. Ini sangat berbahaya," tegas Pratikno.

Aturan Pembatasan Gawai dan Penciptaan Sekolah Inklusif Senada dengan kekhawatiran tersebut, Mendikdasmen Abdul Mu'ti menyoroti masih rendahnya indeks keadaban digital di Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerbitkan Surat Edaran Menteri terkait pembatasan penggunaan gawai bagi anak berusia di bawah 16 tahun.

"Pembatasan ini bukan pelarangan, melainkan bagaimana mereka menggunakan teknologi digital secara bijak, arif, dan untuk kepentingan edukatif. Rata-rata orang Indonesia berselancar di dunia maya 7 jam 32 menit per hari. Jika tidak digunakan untuk hal positif, akan banyak masalah yang mengancam mental dan fisik anak," jelas Abdul Mu'ti .

Selain itu, melalui Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026, Kemendikdasmen terus berkomitmen mewujudkan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, resik, dan inklusif bebas dari kekerasan. Menariknya, dalam momen MPLS ini, sekolah-sekolah juga memperdengarkan lagu anak-anak berjudul "Hari Baru" yang liriknya diciptakan langsung oleh Menteri Abdul Mu'ti.

Darurat Kekerasan Terhadap Anak Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi memaparkan data yang cukup memprihatinkan dari sistem SIMFONI. Sepanjang tahun 2025, tercatat ada 21.352 kasus kekerasan terhadap anak .

"Tujuh puluh satu persen dari tindak kekerasan tersebut justru terjadi di lingkungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman, yakni di dalam rumah tangga dan satuan pendidikan," ungkap Arifatul .

Ia sangat berharap momentum pengenalan lingkungan sekolah ini bisa menjadi awal yang menggembirakan bagi siswa baru. Ia juga mengimbau seluruh siswa untuk saling menjaga, menghormati, dan memastikan tidak ada lagi perundungan (bullying) di sekolah karena dampak traumanya sangat fatal bagi kesehatan jiwa masa depan anak.

Peluncuran Gernas RANA ditandai dengan penekanan layar digital secara bersama-sama oleh para menteri dan jajaran terkait. Ke depannya, gerakan ini diharapkan tidak hanya berhenti pada seremonial, tetapi menjadi fondasi kuat yang terus diimplementasikan secara berkelanjutan di seluruh sekolah di Indonesia demi menyongsong generasi Indonesia Emas 2045 yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Post a Comment

0 Comments

Sistem Pengarsipan Digital