Nasional- Harga minyak mentah dunia kembali menembus level US$90 per barel, memicu kekhawatiran terhadap perekonomian Indonesia. Para ekonom menilai lonjakan kali ini berpotensi memberi tekanan yang lebih besar dibandingkan kenaikan harga sebelumnya karena berlangsung saat kondisi fiskal dan ekonomi domestik menghadapi tantangan yang lebih berat.
Kenaikan harga minyak dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu pasokan energi global. Sebagai negara pengimpor minyak (net importir), Indonesia diperkirakan akan merasakan dampak langsung berupa meningkatnya beban subsidi energi, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), serta potensi kenaikan biaya transportasi dan logistik.
Pengamat Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa dampak lonjakan harga minyak saat ini lebih berat bukan semata karena besarnya kenaikan harga, melainkan akibat titik awal harga (base effect) dan kemungkinan harga tinggi bertahan dalam waktu yang lebih lama. Kondisi tersebut dapat membuat rata-rata harga minyak tahunan melampaui asumsi dalam APBN sehingga meningkatkan risiko pelebaran defisit anggaran.
Selain membebani keuangan negara, kenaikan harga minyak juga berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Dampaknya akan merembet pada naiknya ongkos distribusi barang, biaya logistik, hingga harga kebutuhan pokok di masyarakat. Jika kondisi ini berlangsung berkepanjangan, tekanan inflasi diperkirakan akan semakin meningkat dan memengaruhi daya beli masyarakat.
Di sisi lain, pergerakan nilai tukar rupiah dan stabilitas pasar keuangan turut menjadi faktor yang akan menentukan besarnya dampak lonjakan harga minyak terhadap perekonomian nasional. Pemerintah diperkirakan akan terus memantau perkembangan harga energi global untuk menjaga stabilitas fiskal dan daya tahan ekonomi Indonesia.
Sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak, Indonesia dinilai perlu memperkuat ketahanan energi sekaligus mengantisipasi dampak lanjutan apabila harga minyak dunia tetap bertahan di atas US$90 per barel dalam beberapa waktu ke depan. Langkah tersebut diharapkan dapat meminimalkan tekanan terhadap APBN maupun kondisi ekonomi masyarakat.
[KC.00/Pebri]*





0 Komentar