Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Kabut Asap Palangka Raya Tiga Kali Lipat Lewati Batas Aman, 11 Ribu Warga Terjangkit ISPA


SARIBERITA.ID
 - Kabut asap pekat akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Bencana yang telah berlangsung selama lebih dari tiga bulan ini membuat kualitas udara di wilayah tersebut berada dalam status sangat berbahaya dan jauh dari batas aman, memicu belasan ribu kasus infeksi saluran pernapasan, serta mengganggu jarak pandang di jalan raya dan aktivitas penerbangan.

"Kondisi di Kota Palangka Raya saat ini udaranya masih dalam status berbahaya, bahkan sangat jauh dari batas normal. Angka tersebut sangat jauh dari batas aman yang berada di angka 300, yang berarti saat ini sudah tiga kali lipat di atas batas aman udara yang dapat dihirup oleh manusia," lapor Joy Jones.

Kepungan kabut asap yang tak kunjung usai ini sangat erat kaitannya dengan karakteristik kebakaran di lahan gambut. Meski tim gabungan dari unsur TNI, Polri, Pemerintah Provinsi, hingga Pemerintah Kota terus berjibaku memadamkan api, cuaca yang sangat kering dan ketiadaan hujan memicu bara api kembali menyala.

Joy Jones menjelaskan bahwa bara api di lahan gambut tidak hanya membakar permukaan, melainkan menjalar secara tersembunyi di bawah tanah hingga mencapai kedalaman 3 meter. Kondisi ekstrem inilah yang membuat titik api sangat sulit dipadamkan secara total. Meskipun sehari sebelumnya lahan tampak sudah padam dan tidak berasap, keesokan harinya kepulan asap bisa kembali muncul dari bawah tanah.

Dari segi kesehatan masyarakat, dampak bencana ini sangat masif. Laporan di lapangan menyebutkan bahwa paparan asap pekat selama lebih dari tiga bulan telah menyebabkan sekitar 11.000 masyarakat di Kota Palangka Raya menderita gangguan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kasus yang tinggi ini sejalan dengan meluasnya area kebakaran, di mana tercatat sedikitnya 14 hektare lahan telah hangus di wilayah Palangka Raya saja—belum menghitung total keseluruhan di Provinsi Kalimantan Tengah.

Ironisnya, durasi bencana yang terlalu lama memunculkan fenomena adaptasi yang terpaksa dilakukan masyarakat. Saat ini, banyak warga yang terpantau beraktivitas normal di luar ruangan, berkendara, bahkan berjualan tanpa mengenakan masker, seolah-olah kondisi udara sedang baik-baik saja.

Berdasarkan wawancara di lapangan, Joy Jones menuturkan bahwa warga mengaku terpaksa berkompromi dan mengabaikan bahaya karena bencana ini bukan lagi terjadi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan sudah lebih dari tiga bulan. Mereka tidak memiliki pilihan lain untuk tetap mencari nafkah. Meski tampak mengabaikan keadaan, masyarakat sejatinya sangat berharap penanganan maksimal segera membuahkan hasil agar mereka bisa kembali menghirup udara yang bersih dan segar.

[SB.103/Riskph]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰