SARIBERITA.ID, Jakarta - Banyak masyarakat kerap mengabaikan kondisi kesehatannya saat tubuh masih terasa bugar dan tidak menunjukkan gejala rasa sakit. Padahal, penyakit mematikan seperti diabetes yang tak terkendali dapat diam-diam merusak organ vital, salah satunya memicu komplikasi gagal ginjal kronis.
Hal pilu ini dialami langsung oleh Budi Santoso (50), seorang mantan juru kamera televisi. Bermula dari riwayat diabetes yang diidapnya sejak tahun 2009, pola hidup tidak sehat akibat tuntutan pekerjaan di lapangan masa itu membuat kondisi Budi kian memburuk. Kadar gula darahnya yang dibiarkan tak terkontrol bahkan pernah melonjak drastis hingga menyentuh angka 600.
Selama belasan tahun abai terhadap kesehatannya, tubuh Budi mulai memberikan sinyal peringatan serius. Awalnya ia mengalami penurunan berat badan drastis, keluhan katarak, hingga munculnya bisul. Puncaknya, ia menderita sesak napas berat, pembengkakan pada kaki, serta rasa gatal di sekujur kulit yang memaksanya harus dilarikan ke rumah sakit dan dipasangkan selang CVC (Central Venous Catheter). Setelah diperiksa, fungsi ginjalnya ternyata hanya tersisa 15 persen dan mengharuskannya menjalani prosedur cuci darah rutin sebanyak dua kali seminggu, setiap hari Senin dan Kamis.
Praktisi Kesehatan, Bang Paidon, menjelaskan bahwa mengabaikan penyakit penyerta seperti diabetes dan tekanan darah tinggi sangat berisiko fatal.
"Ketika seseorang mengalami gagal ginjal, yang dipengaruhi bukan hanya ginjalnya, salah satu yang justru sangat fatal adalah jantung. Risiko terkena serangan jantung bisa naik 10 sampai 30 kali lipat, dan bagi orang yang sedang menjalankan proses dialisis, risikonya bisa naik sampai 50 kali lipat," jelas Paidon.
Ia menambahkan bahwa kondisi gagal ginjal memicu penumpukan kalsium pada pembuluh darah (uremia), yang menyebabkan sumbatan pembuluh darah. Bahkan, penelitian menunjukkan sekitar 50 persen penderita gagal ginjal meninggal bukan karena masalah ginjalnya secara langsung, melainkan akibat serangan jantung.
Guna mendeteksi risiko komplikasi tersebut lebih dini, sangat disarankan bagi pasien gagal ginjal untuk melakukan pemeriksaan jantung spesifik. Pemeriksaan tersebut meliputi USG Jantung (Ekokardiografi) untuk menilai fungsi pompa jantung, EKG (Elektrokardiografi) guna merekam kelistrikan jantung, CT Kardiografi untuk menilai skor kalsium pembuluh darah, dan pemeriksaan Biomarker Jantung untuk mengetahui ada tidaknya kerusakan otot jantung.
Bagi penderita yang fungsi ginjalnya sudah di ujung tanduk seperti Budi, selain patuh pada anjuran dokter terkait pembatasan asupan cairan maksimal 600 ml per hari dan rutin minum obat, para praktisi kesehatan juga merekomendasikan penggunaan alat kesehatan berteknologi laser.
Terapi menggunakan teknologi laser intranasal dan neuromuscular electrical stimulation (NMES) yang digunakan di pergelangan tangan terbukti secara ilmiah mampu merangsang produksi oksida nitrat. Hal ini bermanfaat untuk mengurai penggumpalan darah, memperlebar pembuluh darah, membantu mengontrol tekanan darah dan gula darah, serta melancarkan aliran darah yang menuju organ ginjal. Dengan sirkulasi darah yang lebih lancar, fungsi ginjal yang tersisa dapat dijaga dan kualitas hidup pasien, seperti pola tidur dan stamina, dapat kembali meningkat.
[SB.102/CAHAYA]


.jpg)


0 Komentar