SARIBERITA.ID Kompetisi bergengsi ASEAN Cup akan segera bergulir dan diprediksi menjadi panggung pembuktian sekaligus ujian sesungguhnya bagi pelatih Timnas Indonesia, John Herdman. Kiprah dan strategi pelatih tersebut kembali menjadi sorotan utama di kalangan pecinta sepak bola tanah air. Dalam program diskusi Primetime News, perjalanan skuad Garuda di bawah asuhan Herdman dibedah secara mendalam untuk melihat sejauh mana kematangan taktik tim menjelang laga pembuka turnamen ini.
Berdasarkan data statistik yang disampaikan oleh Presenter Primetime News, performa Timnas Indonesia di atas kertas tampak cukup meyakinkan. Dari total delapan pertandingan yang telah dilakoni selama masa kepemimpinan John Herdman, skuad Garuda berhasil mencatatkan lima kali kemenangan, satu kali hasil imbang, dan hanya menelan dua kali kekalahan. Tingkat produktivitas lini serang juga dinilai positif dengan torehan total 17 gol ke gawang lawan dalam delapan laga tersebut.
Menanggapi rentetan statistik tersebut, pengamat sepak bola Bung Harpa memberikan pandangan kritisnya dengan menyebut bahwa deretan angka tidak bisa menceritakan kualitas performa secara utuh. Ia menyoroti bahwa pada pertandingan level kompetitif, kemenangan yang diraih oleh Indonesia sejauh ini hanya didapatkan saat berhadapan dengan tim-tim yang secara kualitas memang berada di bawah mereka, yakni saat melawan Myanmar dan Timor Leste.
Lebih lanjut, Bung Harpa merincikan bahwa dalam ajang kompetitif lainnya, Timnas Indonesia justru sempat menelan kekalahan dari rival sekawasan yakni Vietnam, serta ditahan imbang oleh Singapura. Sementara pada laga bertajuk persahabatan, skuad Garuda mencatat kemenangan saat bersua Oman, hasil seri kontra Mozambik, dan kalah dari tim Eropa, Bulgaria. Rangkaian hasil yang bervariasi inilah yang membuat Harpa menilai catatan Herdman belum sepenuhnya impresif, meski ASEAN Cup ini tetap menjadi peluang baginya untuk membuktikan diri.
Selain membedah catatan statistik, Bung Harpa juga menekankan satu kata kunci krusial yang akan menentukan nasib Timnas Indonesia di turnamen ini, yakni kelancaran strategi rotasi pemain. Ia mengingatkan bahwa jadwal pertandingan di fase grup ASEAN Cup sangatlah padat dengan jarak antar-laga yang sangat berdekatan. Skuad Garuda dihadapkan pada jadwal bertanding setiap tiga hari sekali, yang rencananya jatuh pada tanggal 25 September, 28 September, hingga 1 Oktober.
Dengan ritme turnamen yang sedemikian ketat, Harpa menilai rotasi adalah sebuah langkah mutlak yang wajib diterapkan oleh jajaran pelatih. Para pemain praktis hanya memiliki waktu pemulihan fisik (recovery) yang sangat singkat, sebelum keesokan harinya harus kembali turun ke lapangan untuk menjalani sesi latihan resmi (official training). Meskipun lawan di fase grup seperti Singapura, Malaysia, dan Bangladesh dinilai masih di bawah Indonesia, rotasi tetap harus dilakukan agar stamina pemain pilar tidak terkuras habis.
Diskusi kemudian berlanjut pada upaya evaluasi dari kegagalan Timnas di ajang Piala AFF sebelumnya, di mana presenter meminta pendapat dari komentator sepak bola, Kartika. Dalam pandangannya, Kartika menjelaskan bahwa pada turnamen AFF lalu, Coach John Herdman memang terpaksa banyak melakukan bongkar pasang susunan pemain. Hal tersebut tak lepas dari kondisi absennya para pemain kunci yang tidak dilepas oleh klub karena turnamen itu tidak masuk ke dalam kalender resmi FIFA.
Namun, Kartika menegaskan bahwa situasi pada turnamen kali ini dinilai sangat berbeda karena ajang FIFA ASEAN Cup 2026 memungkinkan Timnas untuk memanggil para pemain terbaiknya. Ia menyoroti bahwa para pemain yang berkarier di luar negeri (pemain abroad) telah secara khusus didatangkan untuk memperkuat skuad Garuda. Oleh karena itu, ia sangat berharap Herdman dapat langsung memaksimalkan potensi para pemain abroad tersebut untuk mengisi starting line-up utama sejak menit awal demi mencegah terulangnya kegagalan di masa lalu.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar