Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Tragedi Orientasi Kampus: Sosiolog Pertanyakan Relevansi OSPEK Usai Kematian Mahasiswa di Aceh


 SARIBERITA.ID
,Banda Aceh – Dunia pendidikan tinggi di Aceh tengah diselimuti duka mendalam menyusul meninggalnya Muhammad Rasya Fadilah, seorang mahasiswa D3 Studi Nautika di Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati, usai mengikuti kegiatan masa orientasi kampus (OSPEK). Kasus ini kini tengah dalam penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian Polresta Banda Aceh guna mengungkap penyebab pasti kematian korban, mengingat pihak keluarga menemukan sejumlah luka memar yang janggal pada tubuh almarhum.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, korban diketahui sempat mengikuti masa orientasi dan kemudian mengalami sejumlah gejala seperti demam tinggi, nyeri tenggorokan, hingga ruam kemerahan di sekujur tubuhnya. Korban sempat mendapat perawatan di klinik kampus sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) karena kondisinya yang terus memburuk. Untuk memastikan penyebab kematian, penyidik kepolisian dan dokter forensik akan melakukan visum serta CT scan, disusul dengan pemanggilan pihak manajemen kampus, panitia orientasi, dan saksi mata untuk rekonstruksi kejadian.

Menanggapi tragedi ini, pakar sosiologi, Ahmad Humam Hamid, menyatakan keprihatinannya yang mendalam. Ia menilai bahwa kasus kekerasan yang berujung pada kematian di lingkungan kampus, khususnya pada masa orientasi, bukan lagi sekadar kasus individual melainkan penyakit sosiologis yang serius.

"Kalau satu kasus di Indonesia itu namanya kasus, kalau dua mungkin juga kasus, tapi kalau di mana-mana ada bullying (perundungan) apalagi pada masa orientasi ini, ini sosiologis. Ini penyakit," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mendorong pihak berwenang, terutama Dirjen Pendidikan Tinggi, untuk mengevaluasi kembali relevansi pelaksanaan OSPEK secara menyeluruh di berbagai perguruan tinggi. Ia mempertanyakan urgensi kegiatan orientasi yang kerap membuka celah terjadinya praktik perundungan atau bullying berkedok pendisiplinan.

"Apakah masih perlu OSPEK ini? Apakah itu bukan cara-cara primitif? Saya sekolah di mana-mana di dunia, mengunjungi berbagai tempat, sepertinya tidak ada di tempat lain. Jangan-jangan ini peninggalan Belanda, atau kreativitas yang tidak jelas asalnya," tambahnya.

Ia juga menekankan kepada pihak rektorat atau manajemen kampus agar tidak lepas tangan (loss control) dalam mengawasi setiap kegiatan kemahasiswaan. Pihaknya memperingatkan bahwa tanpa pengawasan ketat, OSPEK bisa menjadi ajang uji coba kekerasan tahunan yang terus diwariskan dari senior ke junior, yang pada akhirnya melembaga menjadi tradisi yang mematikan.

Ia berharap Poltekpel Malahayati bersedia bersikap kooperatif, transparan, dan menarik jarak dengan para terduga pelaku demi kelancaran proses hukum. Saat ini, publik bersama pihak berwajib tengah menanti hasil investigasi demi menegakkan keadilan bagi korban dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.

[SB.102/CAHAYA]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰