Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Soroti Likuiditas Bank yang Melimpah Namun Tersegmentasi, BI Ungkap Alasan Kredit Belum Merata


SARIBERITA.ID
– Tingginya angka likuiditas di perbankan nasional tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan penyaluran kredit ke berbagai sektor industri. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa meskipun secara makro ketersediaan dana likuiditas di industri perbankan sangat memadai, distribusi likuiditas antarbank masih mengalami segmentasi yang cukup tajam.

Dalam sebuah diskusi ekonomi, Destry Damayanti (Gubernur Bank Indonesia) mengungkapkan bahwa jika dianalisis melalui kacamata makro, indikator likuiditas perbankan di Indonesia masih berada dalam kondisi yang sangat prima. Hal ini tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) secara industri yang masih berada pada rentang 23 hingga 24 persen.

Selain itu, indikator uang beredar atau base money (M0) juga menunjukkan tren yang sangat positif.

"M0 kita di posisi bulan Juli-Agustus itu tumbuhnya di atas 15 persen. Jadi artinya, likuiditas itu sebenarnya ada. Tapi tinggal sekarang kalau kita bicara likuiditas, penyebarannya merata atau tidak," ujar Destry Damayanti.

Destry Damayanti (Gubernur Bank Indonesia) menjelaskan lebih lanjut bahwa untuk melihat pemerataan tersebut, BI melakukan analisis secara mendalam (granular) terhadap rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) pada masing-masing bank.

Dari hasil analisis tersebut, ditemukan adanya anomali pertumbuhan. Pertumbuhan penyaluran kredit perbankan secara nasional pada bulan Juli tercatat mencapai 13,6 persen, namun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) hanya berada di angka 11,21 persen.

"Kalau di periode sebelumnya, DPK itu selalu tumbuh di atas kredit. Tapi belakangan, kredit itu sudah tumbuh melebihi DPK. Likuiditas yang ada di industri itu tersegmentasi, tidak terdistribusi secara merata. Nah, ini yang tentu menjadi pekerjaan rumah kita," papar Gubernur BI.

Tingginya angka kredit tersebut, menurut Destry, sebagian besar didorong oleh bank-bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara). BI mencatat bahwa intermediasi kredit saat ini masih sangat bergantung pada sektor yang digerakkan oleh negara (state-led), baik oleh proyek pemerintah, BUMN, maupun lembaga baru seperti Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Menyikapi fenomena likuiditas yang segmented tersebut, Destry Damayanti (Gubernur Bank Indonesia) menegaskan bahwa otoritas moneter telah memetakan dengan jelas bank mana yang mengalami kelebihan likuiditas (overliquid) dan bank mana yang pengetatan likuiditasnya tinggi (tight).

Ke depannya, Bank Indonesia akan terus mempertajam instrumen kebijakan moneter yang bersifat lebih terarah (targeted) agar distribusi likuiditas antarbank dapat lebih merata, sehingga penyaluran kredit tidak hanya didominasi oleh proyek-proyek berbasis negara, melainkan juga menetes pada sektor swasta secara menyeluruh.[SB.104/Pebri]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital