SARIBERITA.ID Uji coba peluncuran roket raksasa Starship milik SpaceX kembali menjadi sorotan dunia setelah berhasil mencapai orbit Bumi pada penerbangan ke-14. Meski mencatatkan pencapaian bersejarah, misi luar angkasa ini tidak berjalan sepenuhnya sempurna karena harus diakhiri lebih cepat dari jadwal semula. Roket ini pada akhirnya meledak saat melakukan proses pendaratan darurat di perairan Samudra Pasifik, menandai akhir yang dramatis dari uji coba tersebut.
Pada fase awal peluncuran, roket Starship terpantau berhasil melewati titik tekanan aerodinamis maksimum atau Maximum Aerodynamic Pressure (Max Q) dengan sangat mulus. Fase tersebut merupakan salah satu momen paling kritis karena fisik roket menerima tekanan struktural tertinggi. Ketegangan di pusat kendali mereda saat roket mulai menembus lapisan atas atmosfer Bumi tanpa memicu satu pun peringatan bahaya maupun alarm kegagalan di sistem dasbor utama.
Keberhasilan roket dalam menyelesaikan pembakaran injeksi orbit (orbital insertion burn) menjadi target utama yang akhirnya sukses direalisasikan pada peluncuran kali ini. Dan Huot, Manajer Komunikasi SpaceX yang bertindak sebagai komentator peluncuran, mengonfirmasi secara langsung bahwa pesawat antariksa tersebut sukses menetap di orbit Bumi. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini adalah tonggak sejarah besar bagi seluruh tim Starship yang telah bekerja keras mengejar tujuan tersebut selama beberapa tahun terakhir.
Namun, rencana awal dari uji terbang ini terpaksa mengalami perubahan drastis saat mengudara. Berdasarkan desain misinya, pesawat Starship dijadwalkan terbang mengelilingi Bumi dengan durasi perjalanan yang memakan waktu hingga sepuluh jam. Selain menguji daya tahan dan manuver di luar angkasa, misi ini juga membawa puluhan satelit Starlink generasi terbaru yang ditargetkan untuk disebar di orbit.
Sekitar 90 menit setelah roket lepas landas, tim pengendali misi SpaceX mengambil keputusan krusial untuk memotong durasi penerbangan. Keputusan penghentian misi lebih awal ini diambil karena tim mulai kehilangan komunikasi dengan Starship dan menemukan adanya kendala teknis pada mesin roket.
Pesawat Starship akhirnya diarahkan untuk kembali masuk ke atmosfer Bumi lebih awal dari jadwal awal dan jatuh di perairan Samudra Pasifik. Namun, proses pendaratan (splashdown) tersebut tidak berjalan sesuai harapan karena pesawat antariksa raksasa itu meledak saat menghantam permukaan lautan, mengakhiri penerbangan bersejarah tersebut dalam kobaran api.
Menanggapi perjalanan misi yang penuh dinamika ini, Dallas Kasaboski, Analis Ruang Angkasa dari Analysys Mason, menilai bahwa pencapaian ini tetaplah sebuah kemajuan penting meskipun berakhir dengan ledakan. Menurutnya, tekanan yang dihadapi SpaceX pada uji coba ke-14 ini sangat besar, namun keberhasilan roket menembus orbit membuktikan bahwa sistem desain Starship telah melampaui fase kritis yang sering kali berujung kegagalan pada uji terbang sebelum-sebelumnya.
Ke depan, Elon Musk, CEO SpaceX, tetap berencana menjadikan kendaraan megaroket ini sebagai ujung tombak eksplorasi antariksa perusahaannya. Starship sejak awal dirancang sebagai sistem transportasi luar angkasa yang tangguh dan sepenuhnya dapat digunakan kembali (reusable) dengan cepat. Kendaraan raksasa ini disiapkan untuk membawa kru maupun kargo massal ke luar angkasa, serta menjadi kunci utama bagi ambisi jangka panjang SpaceX menuju Bulan dan planet Mars.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar