Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Puluhan Paus Langka Mati Misterius di Pantai Argentina, Infeksi Bakteri Mematikan Jadi Sorotan


SARIBERITA.ID
— Misteri kematian beruntun mamalia laut raksasa kembali memicu kekhawatiran besar di dunia konservasi. Baru-baru ini, seekor paus langka berjenis Southern Right Whale (Paus Sikat Selatan) kembali ditemukan tak bernyawa di kawasan pantai Puerto Madryn, Argentina.

Penemuan tragis ini semakin memperpanjang daftar fenomena kematian misterius puluhan paus yang terjadi hanya dalam beberapa pekan terakhir di sepanjang garis pesisir Provinsi Chubut. Untuk menangani krisis ini, petugas satwa liar bersama pekerja dari pemerintah setempat harus mengerahkan alat berat guna mengevakuasi dan memindahkan bangkai-bangkai paus raksasa tersebut dari bibir pantai.

Saat ini, para ilmuwan, peneliti, dan dokter hewan tengah berpacu dengan waktu untuk menyelidiki penyebab pasti dari fenomena kematian massal tersebut. Berdasarkan data awal pada musim 2026 ini, terpantau tingginya angka kematian yang secara spesifik menyerang anak-anak paus yang baru lahir.

Ancaman kematian ini sangat serius dan diprediksi berpotensi melampaui rekor kelam kematian paus yang pernah terjadi pada tahun 2012 silam, di mana pada saat itu tercatat sebanyak 113 ekor anak paus mati secara massal.

Seorang peneliti dari tim sensus satwa laut setempat yang diwawancarai dalam tayangan tersebut memberikan gambaran terkait kondisi populasi saat ini. Menurutnya, pada sensus tahun ini pihaknya mencatat keberadaan 1.375 ekor paus di perairan tersebut.

"Angka (1.375 paus) ini sebenarnya adalah jumlah yang wajar jika dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya, meskipun tahun lalu sensus kami mencapai rekor tertinggi dengan 2.110 ekor paus. Namun, yang menjadi perhatian serius kami di masyarakat dan tim peneliti adalah tingginya angka kematian anak-anak paus yang lahir pada musim ini," ungkap perwakilan peneliti tersebut.

Terkait penyebab utama kematian massal ini, sang peneliti menjelaskan bahwa tim kolega dokter hewan tengah melakukan investigasi mendalam. Sejauh ini, seluruh bukti dan dugaan kuat mengarah pada infeksi bakteri mematikan bernama Erysipelothrix rhusiopathiae. Bakteri ini diketahui memicu penyakit serius yang menyerang organ-organ dalam anak paus hingga berujung pada kematian akibat septikemia (infeksi darah).

"Bakteri ini sebenarnya secara normal bisa ditemukan hidup di kulit paus. Namun, kami sedang menyelidiki apa yang memicu bakteri tersebut berubah menjadi agen penyakit mematikan. Salah satu hipotesis yang sedang didalami oleh para ahli adalah bahwa luka-luka yang diakibatkan oleh patukan burung camar di tubuh paus telah menjadi jalur masuk (kendaraan) bagi bakteri ini untuk menembus jaringan kulit bagian dalam," jelasnya.

Meski angka kematian dinilai tinggi, para peneliti menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan adanya indikasi atau bukti bahwa kematian massal paus ini disebabkan secara langsung oleh aktivitas manusia.

Sang peneliti menambahkan bahwa kejadian ini merupakan tragedi besar dari sudut pandang kesejahteraan satwa. Namun, mengingat populasi paus telah mengalami peningkatan sejak tahun 2012, mereka masih harus meneliti lebih jauh apakah tingginya angka kematian di generasi (kohort) tahun ini akan berdampak signifikan terhadap kelestarian populasi paus secara keseluruhan di masa depan.

[SB.103/Riskph]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰