SARIBERITA.ID| Penolakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terhadap proposal terbaru yang diajukan oleh pemerintah Iran mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan dampak langsung terhadap pasar modal global [source: 1]. Gelombang sentimen negatif tersebut turut dirasakan di bursa-bursa saham utama kawasan Asia yang mayoritas bergerak di zona merah.
Sebagaimana dilaporkan oleh Presenter Zona Bisnis Metro TV, Leonard Samosir, imbas ketegangan geopolitik yang memanas membuat pergerakan indeks saham acuan di kawasan Asia mengalami tekanan [source: 1]. Indeks saham Asia MSCI terpantau bergerak melemah tipis seiring sikap pelaku pasar yang cenderung menghindari aset-aset berisiko.
Tekanan jual melanda sejumlah lantai bursa di kawasan regional, salah satunya terjadi di Republik Rakyat Tiongkok [source: 1]. Berdasarkan pantauan data pasar, indeks Shanghai Composite di Bursa Efek Shanghai tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,98 persen.
Penurunan yang jauh lebih tajam dialami oleh bursa saham di Korea Selatan [source: 1]. Indeks Kospi di Bursa Seoul dilaporkan anjlok signifikan hingga melemah sebesar 2,20 persen akibat kekhawatiran atas pasokan energi dan ketidakpastian kondisi ekonomi global.
Di tengah kecenderungan pelemahan mayoritas pasar Asia, pergerakan berbeda ditunjukkan oleh bursa saham Jepang [source: 1]. Indeks Nikkei 225 di Bursa Tokyo justru mampu bertahan di zona hijau dengan mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,11 persen.
Presenter Zona Bisnis Metro TV, Leonard Samosir, memaparkan bahwa fluktuasi harga minyak mentah internasional saat ini masih menjadi salah satu faktor utama yang paling memengaruhi pergerakan pasar saham [source: 1]. Sikap keras Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menolak pembukaan jalur laut strategis tersebut dinilai kian mempersempit peluang normalisasi pasokan energi.
Tingginya harga komoditas energi ini secara langsung menambah beban tekanan inflasi di berbagai negara [source: 1]. Kondisi lonjakan harga energi tersebut pada gilirannya memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank-bank sentral dunia akan mengambil langkah kenaikan suku bunga lebih lanjut guna meredam laju inflasi.
Sentimen pengetatan moneter global tersebut kian dipertegas oleh pergerakan pasar obligasi pada pekan lalu [source: 1]. Rata-rata imbal hasil (yield) pada indeks obligasi global dilaporkan melonjak drastis hingga menembus level 4 persen untuk pertama kalinya sejak tahun 2007.
Kenaikan imbal hasil obligasi global ke rekor tertinggi dalam hampir dua dekade tersebut memicu kekhawatiran mendalam di kalangan investor [source: 1]. Pelaku pasar cemas bahwa tingginya imbal hasil surat utang akan bermuara pada lonjakan biaya pinjaman di sektor riil.
Presenter Zona Bisnis Metro TV, Leonard Samosir, menambahkan bahwa kenaikan biaya pinjaman tersebut pada akhirnya dapat memberikan beban berat terhadap pemulihan ekonomi [source: 1]. Selain menghambat ekspansi usaha, mahalnya biaya modal dikhawatirkan akan menekan laba bersih berbagai perusahaan terbuka di masa mendatang.[SB.101/R]





0 Komentar