Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Presiden AS Donald Trump Tolak Proposal Iran Terkait Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Kembali Naik

 


SARIBERITA.ID| Harga minyak mentah dunia kembali mengalami kenaikan pada perdagangan terbaru. Penguatan harga komoditas energi global ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menolak proposal yang diajukan oleh pihak Iran terkait pembukaan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Presenter Zona Bisnis Metro TV, proposal yang diajukan oleh Iran tersebut berkaitan dengan rencana pembukaan kembali Selat Hormuz selama tujuh hari. Namun, usulan pembukaan sementara itu ditolak oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tersebut langsung direspons secara hati-hati oleh pasar energi internasional. Para pelaku pasar menilai bahwa sikap penolakan itu berpotensi semakin menunda pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Kekhawatiran pasar akan tertundanya kelancaran distribusi minyak mentah langsung mendorong penguatan harga di pasar berjangka. Kenaikan harga tercatat terjadi baik pada minyak mentah jenis Brent maupun jenis West Texas Intermediate (WTI).

Pada perdagangan hari ini, harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan bergerak naik hingga menembus kisaran harga 106 dolar Amerika Serikat per barel. Dalam data perdagangan komoditas, harga Brent tercatat menyentuh posisi 105,94 dolar Amerika Serikat per barel atau menguat sebesar 1,55 persen.

Sementara itu, harga minyak mentah acuan Amerika Serikat jenis West Texas Intermediate (WTI) juga terpantau bergerak naik menuju level 94 dolar Amerika Serikat per barel. Data perdagangan menunjukkan harga WTI berada di level 93,52 dolar Amerika Serikat per barel atau mengalami kenaikan sebesar 1,20 persen.

Sebelum lonjakan terbaru ini, harga minyak mentah dunia tercatat terus berfluktuasi sepanjang pekan lalu. Pergerakan harga yang naik-turun tersebut dipengaruhi oleh berbagai sentimen geopolitik dan ekonomi yang saling bersinggungan di pasar global.

Fluktuasi harga sepanjang pekan lalu terjadi di tengah munculnya sinyal diplomatik yang beragam terkait penyelesaian ketegangan kawasan. Di saat yang sama, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan upaya pemulihan aliran pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Faktor lain yang turut memengaruhi dinamika pasar adalah adanya ketidakpastian mengenai langkah kebijakan pemerintah Amerika Serikat. Pasar masih menantikan kepastian tindakan dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menekan harga solar yang telah mencapai rekor tertinggi .

Menyikapi perkembangan situasi saat ini, para pelaku pasar akan terus memantau secara ketat arus pengiriman minyak mentah yang melintasi kawasan Selat Hormuz. Kelancaran arus pelayaran di wilayah tersebut menjadi indikator krusial bagi stabilitas pasokan energi dalam waktu dekat.

Selat Hormuz sendiri memiliki arti yang sangat vital bagi perdagangan energi internasional. Sebelum konflik di kawasan tersebut dimulai, perairan strategis ini menjadi jalur pelayaran utama bagi sekitar seperlima dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) dunia.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰