SARIBERITA.ID — Upaya pendinginan sisa titik panas (hotspot) di kawasan lahan gambut Desa Sungai Pelang, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, terus dilakukan. Sayangnya, langkah krusial untuk memutus perambatan api ini terkendala oleh sulitnya akses air.
Kemarau panjang yang telah melanda wilayah Ketapang selama 80 hari tanpa hujan memicu kekeringan ekstrem. Kondisi ini menjadi tantangan berat sekaligus bukti nyata betapa sulitnya menaklukkan bara api di lahan gambut, yang sewaktu-waktu bisa kembali mengamuk jika tidak dipadamkan hingga ke akarnya.
Tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, BPBD, dan Satgas Karhutla telah berjibaku berbulan-bulan untuk memadamkan api di kawasan tersebut. Hal ini dilakukan karena ancaman kebakaran susulan dinilai masih sangat tinggi.
Kepulan asap tebal masih terlihat dari hamparan gambut yang hangus terbakar. Akibat kekeringan ekstrem, para petugas harus bekerja ekstra dengan berjalan kaki dan menarik selang sejauh 400 meter dari sumber air terdekat menuju titik lokasi api.
Komandan Regu (Danru) BPBD Ketapang, Ahmad Borjani, menjelaskan bahwa air menjadi rintangan terbesar bagi petugas di lapangan.
"Untuk tantangan kita di lapangan adalah air. Karena di lokasi ini pun airnya sangat susah sekali untuk pemadaman. Jarak sumber air ke lokasi yang terbakar saat ini sekitar 400 meter, jadi kita mencoba untuk memaksimalkan itu dengan menggunakan mesin besar," ungkap Ahmad Borjani.
Meskipun dihadapkan pada kendala yang tidak mudah, tim Satgas Karhutla terus bersiaga dan memaksimalkan segala alat berat yang ada.
"Mudah-mudahan usaha yang kita kerjakan hari ini membuahkan hasil dan tidak terjadi lagi penyalaan," harap Ahmad Borjani menutup keterangannya.
Hingga saat ini, para petugas gabungan masih terus bertahan di lokasi untuk memastikan titik panas benar-benar padam dan meminimalisir dampak kabut asap dari lahan gambut.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar