SARIBERITA.ID, Solok - Banjir bandang yang menerjang wilayah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, menyisakan duka mendalam bagi para warga terdampak. Bencana alam ini tidak hanya menyapu bersih harta benda dan tempat tinggal, namun juga melumpuhkan mata pencaharian warga hingga mengancam keberlanjutan masa depan pendidikan anak-anak di daerah tersebut.
Hampir sepekan pascabencana melanda kawasan kompleks perkantoran Bupati Solok dan permukiman di sepanjang aliran Sungai Aiba Liang, material sisa banjir berupa bebatuan besar, batang kayu, serta endapan lumpur tebal masih belum berhasil dibersihkan sepenuhnya. Kondisi medan yang tertutup lumpur dalam dan basah menjadi penghalang bagi warga untuk melihat langsung keadaan rumah mereka. Kekhawatiran warga pun semakin bertambah dengan adanya peringatan dari BMKG mengenai potensi hujan yang diprediksi masih akan terus mengguyur wilayah tersebut hingga bulan Oktober mendatang.
Pada hari ketujuh pascakejadian, salah seorang warga terdampak, Yeni Fitri bersama putrinya, Zahra, akhirnya memberanikan diri untuk meninjau sisa-sisa rumah mereka. Tempat tinggal tersebut merupakan peninggalan berharga dari sang suami yang telah meninggal dunia dua tahun silam. Untuk mencapai lokasi, ibu dan anak ini harus berjuang ekstra hati-hati melintasi material longsor dan melompat dari satu batu ke batu lainnya di bekas aliran sungai yang dipenuhi lumpur basah.
Kehancuran tak hanya terlihat dari bangunan fisik, masa depan pendidikan Zahra yang kini menempuh studi di Akademi Keperawatan Baiturrahmah Padang pun turut terancam putus di tengah jalan. Terjangan air bah telah melenyapkan seluruh sumber pemasukan keluarga mereka. Sepeda motor yang biasa digunakan sang ibu untuk mengantar barang dagangan harian raib disapu banjir. Tak hanya itu, sebuah mobil dump truck yang dioperasikan oleh anak sulungnya untuk menopang roda ekonomi keluarga dan membiayai pendidikan juga turut hilang terbawa arus banjir bandang.
Melihat kondisi rumah dan seluruh harta bendanya yang ludes, Zahra selaku Anak Korban Banjir Bandang mengungkapkan kesedihan dan kepedihannya. "Melihat rumah kayak gini, kita juga ikutan hancur rasanya. Rumah yang udah bertahun-tahun, gedenya di sini, ini juga salah satu rumah peninggalan Papa udah hancur juga," ungkap Zahra.
Sementara itu, Yeni Fitri selaku Warga Korban sekaligus Kepala Keluarga mengaku sangat kebingungan menentukan langkah selanjutnya untuk bertahan hidup pascabencana ini. "Ibu merangkap sebagai bapak sekalian, jadi saya jualan dagangan harian buat anak sehari-hari, dibantu sama anak sulung. Kebetulan udah begini, belum tahu mau ke depannya gimana, jadi masih bingung aja sekarang," tutur Yeni Fitri dengan nada putus asa.
Sebagai informasi, peristiwa banjir bandang yang memporak-porandakan kawasan Arosuka ini tercatat telah merusak 12 unit bangunan perkantoran. Sementara itu, di sektor permukiman warga, dua unit rumah dilaporkan ludes tak bersisa, 12 unit rumah mengalami rusak berat, serta puluhan rumah lainnya mengalami rusak ringan.
[SB.102/CAHAYA]





0 Komentar