SARIBERITA.ID, Sering kali masyarakat mengaitkan ukuran tubuh yang besar dan berotot dengan tingkat stamina fisik yang sudah pasti prima[cite: 2]. Namun, faktanya asumsi tersebut tidak sepenuhnya tepat[cite: 2]. Dalam diskusi sebuah program televisi kesehatan, beberapa mitos seputar gaya hidup yang keliru di tengah masyarakat kembali diluruskan agar tidak berakibat fatal bagi kesehatan jangka panjang[cite: 2].
Terkait dengan stamina, Preti selaku Praktisi Kesehatan, menegaskan bahwa ketahanan tubuh tidak semata-mata ditentukan oleh besar atau kecilnya massa otot seseorang[cite: 2]. "Stamina itu tidak berkaitan dengan besar kecilnya tubuh seseorang. Stamina adalah kemampuan tubuh dalam melakukan aktivitas tanpa merasakan cepat lelah," jelas Preti[cite: 2]. Ia menambahkan bahwa orang dengan badan yang besar pun tetap bisa mudah ngos-ngosan apabila kebugaran fungsi jantung, paru-paru, dan aliran darahnya tidak bekerja secara optimal[cite: 2].
Selain membedah mitos tentang stamina, diskusi tersebut juga menyoroti miskonsepsi perihal dampak buruk dari paparan sinar matahari terik[cite: 2]. Selama ini kebanyakan orang mengira bahwa efek buruk ultraviolet hanya sebatas merusak atau membuat kulit terbakar (sunburn)[cite: 2]. Faktanya, indera penglihatan merupakan salah satu organ vital yang sama rentannya dengan kulit karena tidak memiliki lapisan penutup yang kuat[cite: 2].
Paparan radiasi matahari yang berlebihan secara terus-menerus dapat memicu peradangan yang merusak kornea (fotokeratitis) hingga merangsang tumbuhnya selaput berbentuk segitiga pada mata (pterigium) yang berisiko pada kebutaan[cite: 2].
Kondisi tersebut turut diwaspadai oleh pekerja lapangan maupun komunitas yang beraktivitas tinggi di luar ruangan[cite: 2]. Raka Herza, salah seorang anggota komunitas motor gede Harley Owners Group yang hadir sebagai bintang tamu, mengaku cukup sering merasakan kelelahan dan mata perih akibat tingginya paparan cuaca terik serta polusi di jalan raya[cite: 2].
Oleh sebab itu, untuk menghadapi paparan radikal bebas dan polusi di zaman modern, Preti menampik anggapan bahwa asupan suplemen dan vitamin hanya perlu dikonsumsi ketika tubuh sudah jatuh sakit[cite: 2]. Asupan suplemen antioksidan kompleks dari dalam tubuh sangat dibutuhkan setiap hari sebagai bentuk preventif[cite: 2].
"Minum suplemen itu tidak pas sakit saja, gampangnya suplemen itu bukan obat. Tujuannya adalah untuk memelihara kesehatan tubuh dan menangkal radikal bebas agar organ tubuh kita, termasuk mata, tidak mengalami penuaan dini dengan lebih cepat," pungkas Preti[cite: 2]. [SB.102/CAHAYA]
0 Komentar