SARIBERITA.ID - Pemerintah Republik Indonesia semakin memantapkan langkah diplomasinya di kancah global dengan mendeklarasikan pencalonan diri secara resmi sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) untuk periode 2029-2030. Langkah ini merupakan wujud nyata dari implementasi amanat konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, yakni ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Dalam pidato kebangsaannya di hadapan Majelis Umum PBB, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, menegaskan bahwa kepemimpinan global yang efektif harus diiringi dengan komitmen penuh dari seluruh negara anggota untuk mewujudkan sistem multilateralisme yang berfungsi dengan baik.
Menlu Sugiono juga menyoroti rekam jejak panjang diplomasi dan mediasi Indonesia yang telah berkontribusi besar dalam penyelesaian konflik. Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang pasukan terbesar dalam misi perdamaian PBB, dengan dedikasi pengiriman personel yang telah berlangsung sejak tahun 1957, termasuk pengabdian hampir dua dekade Kontingen Garuda di bawah payung UNIFIL di Lebanon.
"Bapak Presiden (Majelis Umum PBB), dalam semangat inilah Indonesia mengajukan pencalonannya untuk menduduki kursi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB untuk masa jabatan 2029-2030. Komitmen kami sangat jelas: membina persatuan dan memajukan perdamaian," urai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono.
Lebih lanjut, ia memaparkan rumusan operasional dari komitmen tersebut. Menurutnya, membina persatuan berarti membangun kembali kepercayaan dunia terhadap sistem multilateral dan menjaga agar saluran dialog terus terbuka. Sementara itu, memajukan perdamaian menuntut komitmen semua pihak untuk menegakkan hukum internasional secara adil.
Indonesia juga berjanji akan menjunjung tinggi konsistensi Piagam PBB untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional, dengan membuka ruang kerja sama bagi semua negara tanpa terkecuali. Menariknya, dalam forum tingkat tinggi tersebut, Menlu Sugiono turut mengutip pandangan strategis dari Kepala Negara sebagai landasan filosofis diplomasi Indonesia.
"Kami akan membawa prinsip yang sama yang memandu kebijakan luar negeri kami, yakni berinteraksi dengan semua pihak dan menjaga ruang kerja sama tetap terbuka. Seperti yang disebutkan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, pada kuliah umumnya tahun lalu; 'Seribu teman terlalu sedikit, dan satu musuh terlalu banyak'. Pendekatan yang sama (merangkul semua pihak) ini akan kami terapkan," pungkas Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono.[SB.104/Pebri]





0 Komentar