SARIBERITA.ID, Jakarta - Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit diabetes seringkali tidak membuat seseorang langsung waspada. Hal ini dialami oleh Renaldo, seorang profesional di bidang IT yang baru menyadari tingkat keparahan penyakit diabetesnya setelah nyaris mengalami komplikasi fatal akibat luka yang terinfeksi. Kisahnya menjadi pengingat bagi generasi muda dan para pekerja profesional untuk tidak mengabaikan kesehatan.
Dalam sebuah perbincangan di program televisi kesehatan, Renaldo yang akrab disapa Aldo menceritakan awal mula dirinya divonis menderita diabetes. Awalnya, ia sering merasa cepat lelah dan sering haus. Namun, karena tidak ada keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menyepelekan anjuran dokter untuk mengubah pola makan.
Puncak dari masalah kesehatannya terjadi saat ia sedang melakukan kegiatan turing motor besar bersama teman-temannya di Halmahera. Tubuhnya mendadak drop dan menggigil. Setelah diperiksa, ternyata ia mengalami infeksi parah pada luka di kakinya yang tidak ia rasakan sebelumnya akibat kerusakan saraf atau neuropati diabetik. Luka tersebut sangat dalam dan sulit menutup pasca operasi.
Praktisi Kesehatan, dr. Yohanes, menjelaskan bahwa kondisi yang dialami Renaldo merupakan bentuk komplikasi saraf akibat diabetes. "Ketika seseorang mengalami diabetes yang tidak terkontrol, pembuluh darah akan menyempit. Aliran darah yang tidak lancar menyebabkan nutrisi ke saraf tidak tersampaikan dengan baik sehingga saraf menjadi rusak dan mati rasa. Jika dibiarkan, hal ini bisa berujung pada amputasi," jelas dr. Yohanes.
Senada dengan hal tersebut, Praktisi Kesehatan lainnya, dr. Boyke Dian Nugraha, menambahkan bahwa kadar gula yang tinggi di dalam tubuh dapat memicu kekentalan darah dan merusak pembuluh darah, termasuk pada organ vital seperti mata dan otak. Menurut dr. Boyke, penggunaan teknologi laser yang tepat dapat membantu memulihkan kualitas darah.
Setelah menyadari kondisi kesehatannya berada di titik kritis, Renaldo memutuskan untuk segera memperbaiki pola hidupnya, menjaga pola makan, dan menggunakan alat bantu kesehatan berupa teknologi laser AccuLaser. Sebagai orang yang ahli di bidang IT, Renaldo mengaku sempat melakukan riset mandiri terlebih dahulu mengenai teknologi tersebut dan keamanannya karena produk kesehatan harus memiliki izin resmi dari Kementerian Kesehatan.
Hasilnya, setelah rutin menggunakan terapi laser, kualitas tidur Renaldo menjadi jauh lebih nyenyak. Kadar gula darah jangka panjangnya (HbA1C) yang sebelumnya berada di angka 9%, kini turun drastis dan mendekati batas normal di angka 5,5%. Gula darah sewaktunya pun yang semula kerap menyentuh angka 200, kini stabil di kisaran 100.
Host Program Go Healthy, Coki Sitohang, menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari pengalaman nyata Renaldo. "Mari jaga kesehatan kita hari ini demi sebuah investasi masa depan bersama orang-orang yang kita kasihi. Kesehatan adalah harta yang paling berharga, melebihi uang dan karir," ujarnya.
Renaldo pun berpesan kepada masyarakat, khususnya anak muda dan pekerja profesional, agar tidak menunda dalam menjaga kesehatan. "Teknologi hadir untuk membantu umat manusia. Manfaatkanlah sebaik-baiknya, jangan tunda lagi untuk mengambil keputusan terbaik bagi kesehatan. Jangan sampai harus merasakan sakit yang parah baru mulai sadar," pesannya. [SB.102/CAHAYA]





0 Komentar