SARIBERITA.ID – Bencana kabut asap pekat yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah mulai menghambat upaya penanggulangan kebakaran darat dan hutan. Pesawat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang ditugaskan untuk membuat hujan buatan terpaksa batal mengudara dari Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, akibat jarak pandang (visibility) yang sangat rendah dan membahayakan penerbangan.
Menyiasati kendala cuaca tersebut, pemerintah mengambil langkah cepat dengan memindahkan titik keberangkatan operasi OMC. Pesawat penyemai garam tersebut kini dialihkan untuk terbang melalui dua lokasi berbeda, yakni dari Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah) dan Bandara Internasional Syamsudin Noor (Kalimantan Selatan).
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menegaskan bahwa pesawat operasi modifikasi cuaca tidak bisa dipaksakan untuk terbang dari Bandara Tjilik Riwut dalam kondisi kabut asap pekat demi keselamatan kru penerbangan.
"Pusat operasi modifikasi cuaca di Bandara Tjilik Riwut ini sudah beberapa hari tidak bisa bekerja. Kenapa tidak bisa? Karena tidak bisa naik akibat kabut, visibility-nya rendah. Kalau dipaksa naik, bisa celaka," tegas Suharyanto saat memberikan keterangan.
Suharyanto menjelaskan lebih lanjut bahwa dirinya bersama Menteri Kehutanan terus berupaya memecahkan masalah ini guna mendatangkan hujan buatan secepat mungkin. Oleh karena itu, operasional pesawat dialihkan ke bandara yang memiliki jarak pandang lebih aman.
"Makanya langkahnya, mulai nanti malam atau besok, operasi modifikasi cuaca naiknya pesawat dialihkan dari Bandara Syamsudin Noor dan Bandara Pangkalan Bun. Mudah-mudahan dengan dua pesawat yang naik ini, bisa segera menurunkan hujan dan membantu meluruhkan asap," tambahnya.
Langkah strategis ini juga diambil untuk memaksimalkan potensi awan hujan yang ada di wilayah tersebut. Berdasarkan informasi terkini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdapat potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Kalimantan Tengah pada periode 21 hingga 28 September 2026 yang dapat dimaksimalkan melalui teknologi hujan buatan ini.
[SB.103/Riskph]





0 Komentar