Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

INDONESIA DIHADAPKAN KEPUNGAN BENCANA: KARHUTLA, ERUPSI, HINGGA CUACA EKSTREM EL NINO


SARIBEIRTA.ID
 — Indonesia saat ini tengah menghadapi rangkaian ujian berat berupa berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah daerah. Bencana tersebut datang silih berganti dan bahkan terjadi secara bersamaan, mulai dari rentetan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), peningkatan aktivitas letusan gunung berapi, hingga ancaman cuaca ekstrem yang dipicu oleh fenomena iklim El Nino.

Krisis Karhutla secara nasional telah mencatatkan total luas area terbakar yang sangat memprihatinkan, yakni mencapai 72.798 hektar. Dari sebaran wilayahnya, Provinsi Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan dampak terluas yang mencapai 38.310 hektar. Angka ini disusul oleh Riau seluas 16.249 hektar, Kalimantan Selatan seluas 8.019 hektar, serta Kalimantan Tengah seluas 7.634 hektar.

Dampak dari bencana asap Karhutla ini langsung memicu krisis kesehatan publik yang serius, terutama peningkatan kasus penyakit pernapasan. Merujuk pada catatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terdapat kurang lebih 50.891 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menimpa masyarakat di seluruh wilayah Kalimantan dalam rentang waktu bulan Juli hingga 1 September 2026. Kondisi ini sangat rentan menyasar kelompok anak-anak hingga orang dewasa.

Selain krisis Karhutla, ancaman geologis juga membayangi tanah air. Aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah dilaporkan mengalami peningkatan secara serentak. Tercatat pada Minggu, 6 September 2026, empat gunung berapi mengalami erupsi bersamaan. Keempatnya meliputi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dan Gunung Semeru di Jawa Timur yang kini berstatus Level 3 (Siaga), serta Gunung Ili Lewotolok di NTT dan Gunung Ibu di Maluku Utara yang berstatus Level 2 (Waspada).

Sementara itu, anomali cuaca yang dikonfirmasi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menambah panjang daftar kewaspadaan. Fenomena El Nino diperkirakan masih akan terus berlangsung melanda Indonesia hingga awal tahun 2027. BMKG mencatat bahwa cakupan kemarau terluas terjadi pada bulan Agustus yang melanda 48,84% wilayah Indonesia, dan dampaknya masih dirasakan pada bulan September di kawasan Sumatera bagian selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Maluku.

Fenomena cuaca ekstrem El Nino ini membawa dampak yang sangat serius dan multisektoral bagi kehidupan masyarakat. Beberapa imbas nyata di lapangan antara lain krisis ketersediaan air bersih, penyusutan debit air sungai, tingginya risiko gagal panen bagi petani, memburuknya penyebaran Karhutla, hingga potensi lonjakan suhu udara ekstrem yang dapat melebihi 35 derajat celcius di berbagai daerah.

Menyikapi rangkaian bencana yang datang bertubi-tubi ini, manajemen risiko dan mitigasi bencana yang komprehensif sangat mendesak untuk diterapkan. Jika tidak segera diantisipasi dengan solusi mitigasi yang tepat dan terukur, kerusakan yang ditimbulkan baik terhadap kelestarian lingkungan maupun ancaman kesehatan dan ekonomi masyarakat diproyeksikan akan semakin luas.

Sebagai langkah antisipasi dari sisi jaring pengaman sosial, pemerintah pusat tengah mengebut persiapan bantuan pangan untuk masyarakat terdampak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian), Airlangga Hartarto, seusai menggelar Rapat Terbatas bersama Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa program bantuan beras akan diperpanjang. "Kita bahas terkait kesiapan menghadapi El Nino dan program bantuan yang disiapkan. Termasuk bantuan beras yang sampai bulan September itu 30 kg, dan arahan Bapak Presiden untuk dilanjutkan di bulan selanjutnya, yaitu Oktober, November, dan Desember," ungkap Airlangga.

[SB.103/Riskph]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰