Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

IHSG Melemah Tajam, Dibayangi Gejolak Harga Minyak Dunia dan Tekanan Suku Bunga The Fed

 


SARIBERITA.ID| Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) terpantau mengalami tekanan hebat pada perdagangan pagi ini. IHSG dibuka melemah 0,13 persen atau 8,7 poin ke level 6.532. Tren penurunan terus berlanjut hingga sesi pertengahan pagi, di mana IHSG anjlok hingga 1,07 persen ke level 6.473 dengan total nilai transaksi mencapai Rp5,4 miliar.

Pelemahan bursa saham domestik ini dipicu oleh akumulasi sejumlah sentimen negatif dari pasar global. Sentimen utama yang sangat memengaruhi pergerakan pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Terkait gejolak di Timur Tengah, ketegangan yang kembali memanas telah menyebabkan gangguan serius terhadap jalur pelayaran di kawasan Teluk yang mengancam pasokan energi dunia. Adanya kerusakan pipa minyak di Arab Saudi—yang selama ini menjadi jalur alternatif pengiriman tanpa melalui Selat Hormuz—turut meningkatkan kekhawatiran pasar. Kondisi ini berpotensi mengganggu hingga 4 persen pasokan minyak mentah dunia. Sentimen ini praktis mendorong kenaikan tajam harga minyak mentah yang pekan lalu telah menembus angka USD 100 per barel.

Lonjakan harga energi dikhawatirkan akan meningkatkan tekanan inflasi global yang pada akhirnya memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara.

Dari Amerika Serikat, data inflasi konsumen pada bulan Agustus kembali menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 0,4 persen secara bulanan, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan bulan Juli yang hanya 0,1 persen. Sementara itu, inflasi inti tercatat meningkat 0,3 persen secara bulanan, melampaui perkiraan pasar sebesar 0,2 persen.

Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) sebesar 25 basis poin pada pertemuan tanggal 15-16 September 2026.

"Kenaikan suku bunga Amerika Serikat berpotensi mendorong penguatan Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, sehingga memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dan aset berisiko di negara berkembang, termasuk saham di Indonesia," jelas laporan redaksi yang memantau dinamika pasar. Terpantau, Indeks Dolar AS pada pagi ini melanjutkan penguatan sebesar 0,20 persen ke level 99.

Meski demikian, pasar saham domestik tidak sepenuhnya kehilangan sentimen positif. Penguatan bursa Wall Street pada penutupan perdagangan Jumat malam diharapkan mampu menjadi penahan pelemahan lebih dalam.

Selain itu, sentimen positif dari dalam negeri datang dari rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan Agustus yang menguat 1,7 poin ke level 118,5. Penguatan IKK ini ditopang oleh kenaikan porsi belanja konsumsi masyarakat yang mencapai 74,2 persen.

Sepanjang pekan ini, para pelaku pasar dan investor masih akan mencermati perkembangan harga minyak mentah dan arah kebijakan The Fed secara cermat. Pasar juga menantikan sejumlah rilis data ekonomi regional yang penting, termasuk penjualan ritel, utang luar negeri Indonesia, serta keputusan suku bunga dari Bank of Japan (BoJ).

Sementara itu, untuk pergerakan bursa Asia pada pagi hari ini bergerak bervariasi. Indeks Nikkei 225 turun 0,8 persen, namun Indeks Hang Seng berhasil naik 0,3 persen, dan Straits Times Singapura menguat 0,2 persen.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰