Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Gus Kikin Tegaskan NU Bukan Organisasi Politik, Teguhkan Posisi sebagai Organisasi Keagamaan


SARIBERITA.ID
– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, merespons isu yang menyebut dirinya berpotensi menjadi kendaraan atau boneka politik usai terpilih memimpin PBNU. Gus Kikin dengan tegas menepis anggapan tersebut dan menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan murni organisasi keagamaan dan kemasyarakatan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Gus Kikin (Ketua Umum PBNU) saat menjelaskan prinsip dan pedoman organisasi PBNU ke depan. Ia menekankan bahwa kepemimpinannya akan terus berpegang teguh pada manhaj NU yang tercantum dalam Qanun Asasi NU.

"NU itu bukan untuk berpolitik. NU itu adalah jam'iyyah diniyah ijtimaiyah. Jadi ini murni satu organisasi keagamaan, organisasi kemasyarakatan, dan bukan untuk berpolitik," tegas Gus Kikin.

Terkait hubungan PBNU dengan pemerintahan, cucu dari pendiri NU KH Hasyim Asy'ari ini menyatakan bahwa NU tetap akan memberikan dukungannya kepada pemerintah. Namun, ia menggarisbawahi bahwa sinergi dengan tokoh nasional, elemen pemerintahan, maupun kelompok politik sama sekali tidak boleh dimaknai sebagai upaya menjadikan NU sebagai kendaraan politik.

"Kalau dukungan dengan pemerintahan, itu kewajiban. Kita umat Islam itu wajib mendukung pemerintah supaya bisa berjalan beriringan," tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir (Cendekiawan Muda NU) memberikan masukannya bagi nakhoda baru PBNU. Ia meminta agar kepengurusan yang baru ini bisa mengedepankan kerja-kerja kolektif bersama dan tidak bergantung pada figur atau otoritas tunggal semata.

"Saat ini para tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, dengan segala hormat, tidak memiliki kapasitas (kharisma absolut) yang sama persis dengan para pendiri NU terdahulu. Karena itu, tidak bisa lagi mengandalkan otoritas individu. Harus ada kerja-kerja kolektif bersama," jelas Gus Nadir.

Ia juga berpesan agar pemimpin yang memenangkan muktamar mau merangkul seluruh pihak, termasuk mereka yang berada di kubu yang kalah saat kontestasi.

"Syarat yang utama adalah siapapun yang menang nanti harus bisa merangkul pihak yang kalah. Karena NU itu bukan partai politik di mana the winner takes all (pemenang mengambil segalanya). NU itu adalah organisasi kemasyarakatan, karena itu setelah kontestasi selesai, yang harus ada adalah kolaborasi," pungkas Gus Nadir.

Dengan semangat kebersamaan ini, kalangan luas berharap duet kepemimpinan Gus Kikin (Ketua Umum PBNU) bersama KH Miftachul Akhyar (Rais Aam PBNU) dapat senantiasa menciptakan suasana organisasi yang sejuk, damai, serta menjadi rumah yang nyaman bagi seluruh warga Nahdliyin.SB.104/Pebri]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital