SARIBERITA.ID, Jakarta - Serangan stroke bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu, termasuk mereka yang sehari-harinya mendedikasikan hidup untuk menyembuhkan orang lain. Realita pahit inilah yang dialami langsung oleh seorang terapis akupunktur yang tiba-tiba harus menghadapi kenyataan lumpuh akibat serangan stroke. Kisah perjuangannya untuk bangkit dan kembali pulih menjadi sorotan penuh haru sekaligus inspirasi dalam program edukasi kesehatan Go Healthy.
Menjadi seorang praktisi kesehatan tidak lantas membuat seseorang kebal terhadap ancaman penyakit kardiovaskular dan saraf. Rutinitas yang padat dalam melayani pasien sering kali membuat para terapis abai terhadap kondisi tubuhnya sendiri, seperti mengabaikan waktu istirahat yang cukup hingga kurang memperhatikan asupan nutrisi dan faktor risiko hipertensi.
Herman, selaku Terapis Akupunktur, menceritakan momen titik balik yang meruntuhkan sekaligus membangun kembali semangat hidupnya. "Selama bertahun-tahun saya menusukkan jarum untuk membantu memulihkan pasien stroke, namun saya tidak pernah menyangka penyakit itu akan menyerang saya. Awalnya saya hanya merasa kesemutan hebat di area wajah dan lengan, lalu tiba-tiba separuh badan saya melemah dan sulit digerakkan. Kejadian itu seperti tamparan keras bahwa saya terlalu sibuk merawat orang lain, tapi lupa merawat diri saya sendiri," kenangnya dengan penuh emosi.
Perjalanan pemulihan Herman tidaklah mudah dan instan. Dari seorang yang terbiasa mandiri dan merawat orang lain, ia harus belajar menerima keadaan untuk dirawat. Namun, semangatnya tidak padam. Ia disiplin menjalani serangkaian pengobatan medis, fisioterapi intensif, serta menerapkan modifikasi gaya hidup sehat secara ketat, termasuk menjaga pikiran agar tetap positif.
Menanggapi kasus ironis namun penuh pelajaran ini, pakar kesehatan menegaskan bahwa pemulihan stroke sangat bergantung pada kecepatan penanganan awal dan kedisiplinan pasien dalam proses rehabilitasi.
dr. Budi Setiawan, Sp.S, selaku Dokter Spesialis Saraf, menjelaskan pentingnya sinergi pengobatan dalam kasus stroke. "Kisah Bapak Herman ini adalah peringatan nyata. Profesi apapun tidak menjamin kita bebas dari stroke jika faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, kolesterol, dan stres tidak dikelola dengan baik. Kunci keberhasilan pemulihan Bapak Herman terletak pada semangat pantang menyerahnya untuk melatih kembali fungsi motorik. Melalui terapi medis yang tepat dan kemauan keras, neuroplastisitas otak dapat bekerja maksimal untuk membangun kembali jalur saraf yang rusak," tegasnya.
Kini, berkat kedisiplinan, dukungan keluarga, serta perawatan medis yang berkelanjutan, kondisi Herman berangsur membaik secara signifikan. Ia perlahan sudah bisa kembali beraktivitas secara mandiri. Melalui program Go Healthy, kisahnya menjadi pengingat berharga bagi masyarakat luas bahwa kesehatan adalah aset tak ternilai yang harus dijaga setiap hari, dan tidak ada kata terlambat untuk berjuang meraih kesembuhan.
[SB.102/CAHAYA]





0 Komentar