SARIBERITA.ID, Bogor - Berawal dari keresahan melihat tumpukan pakaian yang sudah tidak terpakai di dalam lemari rumah, sebuah kepedulian kecil terhadap lingkungan akhirnya bertransformasi menjadi gerakan nyata yang inspiratif bernama "Sadar Lemari"[cite: 2]. Berbasis di kawasan Bogor, gerakan kolektif ini hadir sebagai upaya solutif untuk mencegah pakaian bekas agar tidak berakhir menjadi gunungan limbah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA)[cite: 2].
Sarah Ratu Satriavi, selaku Inisiator Gerakan Sadar Lemari, mengungkapkan bahwa inisiatif peduli lingkungan ini mulanya bermula dari refleksi pribadinya sebagai perempuan yang sering kali tanpa sadar menumpuk pakaian yang tidak pernah disentuh[cite: 2]. "Sadar lemari itu sebenarnya refleksi saya pribadi, sadar dengan isi lemari saya sendiri. Supaya tidak menumpuk pakaian saja di lemarinya. Kemudian saya mencoba menggerakkan masyarakat untuk lebih sadar lagi dengan pakaian-pakaian yang ada di lemarinya masing-masing," tutur Sarah Ratu Satriavi[cite: 2].
Sarah bersama sang suami yang mulai menggalakkan gerakan ini sejak tahun 2023, menyadari betul besarnya ancaman limbah tekstil di Tanah Air[cite: 2]. Di Indonesia sendiri, TPA tercatat menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil atau pakaian setiap tahunnya[cite: 2]. Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa banyak pakaian berbahan serat sintetis (turunan plastik) yang berujung dibakar, sehingga melepaskan zat karsinogenik yang sangat merusak udara dan memicu krisis iklim (climate change)[cite: 2]. Minimnya fasilitas khusus penampungan limbah tekstil inilah yang mendorongnya menjadikan Sadar Lemari sebagai solusi bagi masyarakat[cite: 2].
Dalam praktiknya, Gerakan Sadar Lemari membuka donasi pakaian bekas melalui program "Jumat Berkah" bagi warga di lingkungan sekitar, dengan syarat dasar pakaian yang disetorkan harus sudah dalam kondisi bersih[cite: 2]. Seluruh donasi pakaian yang terkumpul tersebut nantinya akan dikurasi dan disortir kembali secara ketat[cite: 2].
Bagi pakaian yang masih sangat layak pakai, pihak pengelola akan me-laundry atau mencucinya kembali sebelum didonasikan secara tepat sasaran kepada pihak-pihak yang membutuhkan, seperti pondok pesantren, panti asuhan, hingga para penyintas bencana alam[cite: 2].
Menariknya, pakaian yang dinilai sudah tidak layak pakai tidak akan berujung di tempat sampah[cite: 2]. Kain-kain bekas tersebut akan dipilah dan diolah kembali melalui proses upcycling (daur ulang kreatif) menjadi karya atau produk-produk baru yang memiliki nilai jual[cite: 2]. Hasil dari penjualan produk upcycling itulah yang kemudian diputar kembali untuk mendukung biaya operasional dan menjaga keberlanjutan operasional gerakan lingkungan ini[cite: 2]. [SB.102/CAHAYA]
0 Komentar