SARIBERITA.IDErupsi Gunung Anak Krakatau yang memuntahkan material vulkanik membawa dampak serius bagi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Sebaran abu vulkanik yang masif menjangkau berbagai wilayah dan memicu kewaspadaan tinggi dari berbagai pihak, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K), menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas utama di tengah situasi darurat ini. Orang tua diminta untuk tidak menunggu hingga anak menunjukkan gejala gangguan kesehatan yang parah sebelum mengambil tindakan perlindungan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K), menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik memiliki karakteristik yang tajam dan abrasif, sehingga sangat berbahaya jika terhirup. Paparan material ini dapat menimbulkan iritasi saluran pernapasan seperti bersin, batuk, pilek, hingga sesak napas. Risiko yang jauh lebih tinggi dihadapi oleh anak-anak yang memiliki riwayat penyakit penyerta seperti asma, alergi, atau gangguan paru kronis.
Pihak IDAI mengimbau para orang tua untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan secara ketat, di antaranya dengan tetap menjaga anak di dalam rumah, menggunakan masker khusus yang rapat jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan, serta menghindari metode pembersihan abu secara kering yang dapat membuat partikel kembali beterbangan di udara. Jika anak mulai menunjukkan gejala seperti napas cepat atau tarikan dinding dada ke dalam, orang tua diminta segera membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.
[SB.102/CAHAYA]
0 Komentar