SARIBERITA.ID| Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) bersama perusahaan konsultan manajemen global McKinsey & Company menyoroti pentingnya penguatan ekosistem usaha dan pemanfaatan sektor strategis untuk mendorong lahirnya para champion atau pengusaha-pengusaha baru di Indonesia. Upaya ini dinilai krusial untuk mengantarkan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045 mendatang.
Perwakilan dari McKinsey, Kun, mencontohkan bahwa Indonesia dapat mendorong industrialisasi dengan memanfaatkan keunggulan komparatif sumber daya alam yang dimilikinya, salah satunya nikel.
"Kita mempunyai nikel yang cukup banyak. Bagaimana itu bisa disambungkan ke industrialisasi baterai, dan dari baterai menjadi mobil listrik. Itu salah satu contoh bagaimana Indonesia bisa mengindustrialisasi dengan menggunakan keunggulan yang sudah ada. Jika sektor-sektor itu bisa dikembangkan dan menarik modal asing masuk, saya yakin ini bisa mengakselerasi pertumbuhan wirausaha Indonesia," ungkap Kun.
Merespons tantangan untuk melahirkan wirausaha baru, Perwakilan APINDO, Sinta, menegaskan bahwa keberanian dan mental pantang menyerah saja tidak cukup untuk menjadi pengusaha di era saat ini. Dibutuhkan sebuah ekosistem usaha yang komprehensif dan terintegrasi dari hulu ke hilir.
Sinta merinci setidaknya ada lima aspek dalam ekosistem usaha yang perlu menjadi fokus pemerintah dan pemangku kepentingan, Sinta menekankan pentingnya proses debottlenecking dan deregulasi agar tidak menyulitkan dunia usaha. Hambatan ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar, melainkan juga menekan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), misalnya terkait isu kewajiban sertifikasi halal. Sinta meminta pemerintah hadir memperbaiki regulasi agar UMKM dapat lebih terbantu, Menurut Sinta, kemitraan strategis adalah kunci. Saat ini, APINDO aktif memfasilitasi matchmaking atau perjodohan bisnis antara pengusaha lokal dengan pihak asing. Sinta menyoroti bahwa banyak perusahaan menengah asing yang masuk ke Indonesia dengan membawa modal (financing) dan teknologi yang mumpuni. Jika mereka bermitra dengan perusahaan lokal, akan lebih banyak celah pasar terbuka bagi para pengusaha di Tanah Air,Pendidikan menjadi pondasi utama kualitas SDM. Sinta mengungkapkan keprihatinannya karena struktur pekerja Indonesia masih banyak didominasi oleh lulusan pendidikan dasar (sekitar 38%). Oleh karena itu, akses terhadap pendidikan yang memadai dan penanaman keahlian kewirausahaan (entrepreneurial skill) sejak dini mutlak harus didorong oleh pemerintah,Sinta menyoroti bahwa sumber pembiayaan untuk pengusaha tidak boleh melulu berpatokan pada perbankan konvensional yang aksesnya masih terbatas. Perluasan variasi dan jenis pendanaan alternatif di luar perbankan harus menjadi perhatian bersama agar struktur pembiayaan bisnis semakin dalam (deepening), Ekosistem tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan infrastruktur fisik maupun konektivitas digital yang memadai untuk menunjang daya saing UMKM.
Kendati banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, Kun dari McKinsey tetap menyampaikan optimismenya terhadap prospek masa depan ekonomi Indonesia. Ia meyakini lompatan visi Indonesia 2045 sangat mungkin direalisasikan.
"Kami cukup yakin bahwa jika Indonesia mencari The Indonesian Way—yakni belajar dari proses yang telah dilalui negara lain, sekaligus mencari jalan khas Indonesia sendiri—maka menjadi high income economy di tahun 2045 adalah sesuatu yang sangat memungkinkan terjadi," tutup Kun.[SB.101/R]


.jpeg)


0 Komentar