SARIBERITA.ID, KETAPANG - Bencana kabut asap yang menyelimuti wilayah Ketapang, Kalimantan Barat, berdampak langsung pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat. Para tenaga kesehatan di Puskesmas Kedondong kini harus bekerja ekstra keras menghadapi lonjakan pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Ironisnya, pasien saat ini didominasi oleh kelompok anak-anak dan balita yang sangat rentan terdampak polusi udara.
Peningkatan jumlah pasien ini dilaporkan mulai signifikan sejak akhir Agustus hingga memasuki bulan September. dr. Mirna Nurjayani selaku Dokter di Puskesmas Kedondong, mengungkapkan bahwa keluhan infeksi saluran pernapasan meningkat cukup drastis, yakni mencapai 20 hingga 30 persen dibandingkan hari biasa. Selain balita, kelompok lanjut usia (lansia) juga tercatat banyak yang datang untuk berobat.
Bagi dr. Mirna Nurjayani, melihat anak-anak dalam kondisi sakit pernapasan merupakan beban emosional yang berat. Terlebih di tengah paparan kabut asap, keprihatinan bertambah ketika mengetahui masih ada sebagian orang tua yang kurang paham akan bahaya asap dan tetap merokok di dalam rumah. Apabila ada pasien anak yang mengalami sesak napas parah atau menunjukkan gejala radang paru, pihak puskesmas akan segera merujuknya ke rumah sakit.
Namun demikian, menangani penyakit fisik anak bukanlah satu-satunya ujian bagi para nakes di lapangan. Mereka sering dihadapkan pada realitas persoalan gizi pasien, ketiadaan jaminan kesehatan seperti BPJS, hingga faktor himpitan ekonomi keluarga.
dr. Mirna Nurjayani menambahkan bahwa tugas tenaga kesehatan tidak sekadar mengobati (kuratif), tetapi juga harus menjalankan upaya promotif dan preventif. Realita di lapangan sering kali menjadi dilema berat. Meskipun penanganan medis sudah diberikan di fasilitas puskesmas, proses pemulihan pasien sangat dipengaruhi oleh kelanjutan perawatan, dukungan ekonomi keluarga, serta kondisi lingkungan di rumah yang sehat.
Meski berhadapan dengan ragam tantangan dan cuaca berasap, tenaga kesehatan di Puskesmas Kedondong tetap memastikan agar setiap warga, khususnya anak-anak, bisa terus mendapatkan akses perawatan dan pengobatan tanpa terkecuali, sekalipun dari keluarga prasejahtera.
[SB.102/CAHAYA]


.jpg)


0 Komentar