Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Dari Pasar Hingga Peternakan Maggot: Upaya Nyata Warga Jakarta Mengurai Masalah Sampah Organik

 

SARIBERITA.ID, - Sampah organik seperti sisa makanan, dedaunan, dan potongan rumput seringkali hanya dianggap sebagai limbah yang akan terurai dengan sendirinya. Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, timbunan sampah organik dapat memicu pencemaran lingkungan hingga menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Namun sebaliknya, di balik tumpukan limbah tersebut tersimpan potensi besar jika dikelola dengan tepat. Kesadaran untuk mengelola limbah ini pun perlahan mulai tumbuh di berbagai lapisan masyarakat ibu kota.

Di tingkat pasar tradisional, langkah awal pengelolaan sampah mulai diwujudkan dengan sangat baik. Marwah, selaku Pedagang di Pasar Tradisional Jakarta Barat, menuturkan bahwa mayoritas pedagang kini telah memiliki kesadaran mandiri untuk memilah sampah organik dan anorganik. Sampah seperti sisa sayuran yang mudah busuk dipisahkan dari sampah plastik maupun kardus bekas sejak dari lapak mereka. Meski belum bisa mengolahnya secara mandiri menjadi produk turunan lain, pemilahan dasar ini sangat membantu meringankan beban pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir.

Langkah pemilahan dari para pedagang tersebut kemudian disambut dan diteruskan oleh pihak pengelola pasar ke tahap pengolahan lanjutan yang terstruktur. Tatang, selaku Pengelola Pasar Tomang Barat, menjelaskan bahwa tim kebersihan pasar telah memiliki program khusus untuk mengolah tumpukan sampah organik tersebut menjadi pupuk kompos. Sampah organik yang telah dipilah oleh pedagang dikumpulkan selama dua hingga tiga hari sebelum akhirnya masuk ke mesin penggilingan kompos seminggu sekali. Hasil gilingan ini kemudian dikemas menjadi puluhan kantong plastik pupuk kompos yang dibagikan secara gratis kepada para pedagang, warga setempat, dan pengunjung yang membutuhkan pupuk untuk tanaman mereka.

Kesadaran serupa juga mulai merambah ke sektor usaha kuliner. Dio, selaku Pemilik Rumah Makan, telah menerapkan kebijakan pemilahan sampah sisa makanan dan sampah anorganik kepada seluruh pegawainya. Semua sisa makanan pelanggannya dipisahkan secara ketat dari sampah plastik, tisu, maupun sedotan sebelum memasuki area cuci piring. Meskipun diakuinya keterbatasan waktu dan tenaga membuatnya belum mampu mengolah tumpukan sampah organik usahanya menjadi kompos, Dio memandang kebiasaan memilah ini sebagai langkah awal yang sangat penting untuk mempermudah tugas para petugas pengangkut sampah.

Selain diolah menjadi kompos melalui metode konvensional, potensi limbah organik juga dimaksimalkan melalui metode budidaya maggot yang bernilai ekonomis. Adityya, selaku Pengelola Integrated Farm di kawasan Jakarta Utara, menjelaskan bahwa fasilitas peternakannya rutin menampung suplai sampah organik dari warga sekitar dan Dinas Lingkungan Hidup. Setiap minggunya, berton-ton bubur sampah organik dialokasikan ke puluhan biopond sebagai pakan utama maggot. Setelah melewati masa pemeliharaan 7 hingga 13 hari, maggot tersebut akan dipanen untuk dijadikan pakan ternak berkualitas tinggi, sementara sisa-sisa penguraiannya (kasgot) dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos yang sangat subur.

Pengelolaan sampah organik yang kian terintegrasi dari skala rumah tangga, pasar tradisional, tempat usaha, hingga fasilitas peternakan ini membuktikan bahwa limbah organik bukanlah akhir dari segalanya. Pemahaman serta aksi nyata masyarakat dalam memilah dan mengolah akan memitigasi dampak buruk pencemaran ekosistem sekaligus merubah wujud sampah menjadi sumber daya yang berdaya guna tinggi bagi kelestarian alam.

[SB.102/CAHAYA]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰