Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

BMKG Pantau Ketat Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau, Empat Bandara Ditutup Sementara


SARIBERITA.ID| 
 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan pemantauan selama 24 jam penuh terhadap erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan ini secara khusus menyoroti dampak sebaran abu vulkanik terhadap keselamatan operasional penerbangan serta kondisi laut di kawasan Selat Sunda.

Berdasarkan hasil analisis citra satelit pada Minggu, 6 September 2026 pukul 07.00 WIB, BMKG berhasil mengidentifikasi adanya dua klaster utama sebaran abu vulkanik yang meluas mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Merespons situasi darurat ini, Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdani, menyatakan bahwa Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta telah menerbitkan 18 peringatan Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi awal terjadi pada tanggal 4 September 2026 pukul 23.23 WIB.

"Fokus kami adalah memantau dampak erupsi tersebut terhadap kondisi atmosfer, terutama keberadaan arah, ketinggian, dan perkembangan sebaran abu vulkanik. Hal ini sangat penting karena informasi ini tentunya dapat memengaruhi berbagai aktivitas masyarakat, termasuk operasional penerbangan," ungkap Andri Ramdani dalam keterangannya.

Lebih lanjut, Andri menjelaskan bahwa pembaruan data SIGMET mencatat sebaran debu vulkanik terbagi menjadi dua pergerakan arah dengan ketinggian yang berbeda.

"Klaster pertama bergerak ke arah timur maupun tenggara hingga ketinggian 20.000 kaki. Ini yang berdampak terhadap wilayah-wilayah seperti sebagian Banten, DKI Jakarta termasuk Jabodetabek, dan juga Jawa Barat," papar Andri.

Sementara itu, klaster kedua terpantau bergerak ke arah barat dengan ketinggian yang jauh lebih ekstrem, yakni mencapai 50.000 kaki atau sekitar 15 kilometer. "Klaster yang lebih tinggi ini secara dominan mencakup wilayah Samudra Hindia dan berdampak terhadap wilayah Lampung, Bengkulu, serta Selat Sunda bagian selatan," tambahnya.

Dampak dari pergerakan abu vulkanik ini langsung dirasakan oleh sektor penerbangan nasional. Berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM) yang dirilis oleh AirNav pada 6 September, sebanyak empat bandara utama terpaksa ditutup sementara. Keempat bandara tersebut meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Raden Inten II, dan Bandara Budiarto.

Pihak otoritas akan terus memantau pergerakan abu vulkanik dan memberikan informasi terkini secara berkala untuk memastikan keselamatan masyarakat serta sektor transportasi udara.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰