Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Tragedi Candaan Berujung Kekerasan: Siswa SD di Ungaran Alami Trauma dan Luka Fisik Akibat Ulah Teman Sekelas


 SARIBERITA.ID,UNGARAN – Kasus dugaan perundungan dan kekerasan anak di lingkungan pendidikan kembali mencuat. Seorang siswa kelas 4 di SD Haji Isriati, Ungaran, Kabupaten Semarang, dikabarkan mengalami trauma berat dan luka fisik usai diduga menjadi korban perundungan oleh dua orang teman sekelasnya.

Peristiwa nahas tersebut terjadi pada tanggal 23 September 2026 lalu, tepatnya setelah para siswa mengikuti jam pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Akibat insiden itu, korban harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit akibat luka dan demam tinggi yang dideritanya.

Keluarga korban menuturkan bahwa sang anak menerima tindak kekerasan fisik yang berakibat cukup fatal. Kondisi kesehatan anak tersebut menurun drastis pada malam hari pasca kejadian.

"Anak saya mendapatkan perlakuan perundungan dari dua teman kelasnya yang mengakibatkan memar, ada luka di belakang telinga, hingga pecah di bibir sebelah kiri bawah. Pada Rabu malam demamnya luar biasa, sempat ditahan di rumah namun suhu badannya bertambah tinggi hingga 41,8 derajat. Hari Jumatnya kami bawa ke Rumah Sakit Hermina Banyumanik. Di sana ternyata menurut dokter IGD, anak saya mengalami trauma," ungkap Orang Tua Korban.

Di sisi lain, pihak institusi pendidikan memberikan penjelasan terkait kronologi awal mula peristiwa tersebut. Berdasarkan keterangan sekolah, insiden itu bermula dari sebuah permainan antar-siswa yang lepas kendali hingga menjadi perkelahian sungguhan. Pihak sekolah mengklaim telah mengambil langkah pembinaan.

"Kejadiannya di kelas itu anak-anak mengajak yang lainnya untuk main perang-perangan. Terus akhirnya dari mainan ini jadi beneran (berkelahi). Kami sudah memberikan upaya penanganan, kemudian kami juga menghubungi orang tua pelakunya. Saat ini kami sedang menunggu timing kesiapan dari orang tua korban, karena situasinya sedang tidak memungkinkan dan si anak ini juga belum stabil, sehingga kami meminta waktu untuk bisa bertemu dan mediasi," jelas Perwakilan Pihak Sekolah.

Hingga saat ini, proses mediasi antar kedua belah pihak yang difasilitasi oleh sekolah masih tertunda karena fokus utama masih ditujukan pada pemulihan kondisi fisik dan psikologis korban yang terguncang. Kejadian ini diharapkan menjadi evaluasi besar bagi sistem pengawasan sekolah terhadap interaksi siswanya di dalam maupun di luar jam pelajaran kelas.

[SB.102/CAHAYA]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰