Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Pakar Ungkap Ancaman Fatal Kerusakan Mesin Jet Pesawat Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau


SARIBERITA.ID
Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada masyarakat di sekitar pesisir, tetapi juga memberikan ancaman serius terhadap dunia penerbangan. Sebaran abu vulkanik yang meluas dilaporkan telah mencapai sejumlah wilayah udara, sehingga memaksa penutupan bandara dan penghentian operasional sejumlah penerbangan.

Abu vulkanik bukanlah sekadar debu biasa yang membatasi jarak pandang pilot, melainkan material dengan karakteristik mematikan yang dapat merusak struktur mesin terbang secara fatal.

Menurut standar dan penelitian dari United States Geological Survey (USGS), abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan meskipun pesawat berada jauh dari lokasi gunung api. Awan abu dengan konsentrasi tinggi tidak hanya sekadar mengurangi jarak pandang, tetapi dapat merusak sistem navigasi pesawat dan menyebabkan kegagalan fungsi pada mesin jet secara total.

USGS menjelaskan bahwa ketika pesawat melewati awan abu, partikel material vulkanik tersebut akan tersedot ke dalam mesin jet. Karena temperatur di bagian dalam mesin sangat tinggi, material abu ini akan meleleh dan kemudian menempel atau membeku kembali pada komponen mesin yang bersuhu lebih dingin. Endapan inilah yang akan memblokir aliran udara dan merusak kinerja mesin. Lebih jauh, sifat abrasif dari abu vulkanik dapat mengikis komponen vital, yang berisiko menyebabkan mesin kehilangan daya dorong secara tiba-tiba atau mengalami mati mesin di udara (flame out).

Oleh karena itu, pesawat tidak harus berada tepat di atas Gunung Anak Krakatau untuk terkena imbasnya. Selama rute penerbangan berpotensi bersinggungan dengan jalur pergerakan awan abu, penerbangan wajib dialihkan atau dihentikan sementara demi keselamatan.

Alvin Lie, Pengamat Penerbangan, memaparkan bahaya teknis secara lebih rinci mengenai dampak material abu vulkanik terhadap struktur pesawat. Menurutnya, abu vulkanik memiliki karakter yang sangat panas, abrasif, dan tajam karena terlontar langsung dari perut bumi pada suhu ekstrem.

"Beberapa yang terkena dampak pertama adalah bagian eksterior dulu. Kaca-kaca pesawat ini bisa menjadi buram karena tergores, dan itu akan sangat menghambat pandangan dari kokpit," ungkap Alvin Lie.

Lebih lanjut, ia menyoroti risiko pada instrumen vital pengukur di bagian luar pesawat. "Ada sensor-sensor di pesawat yang bentuknya seperti tabung untuk mengukur kecepatan, tekanan udara, dan sebagainya. Sensor itu bisa tersumbat. Kalau sampai masuk dan kena mesin, di dalam mesin itu banyak baling-baling turbin yang berputar. Baling-baling itu bisa rusak, macet, dan bahkan meleleh karena sifat dari abu vulkanik ini panas, sehingga sangat berbahaya untuk penerbangan," tegasnya.

Alvin Lie juga menambahkan bahwa ancaman terbesar dari sebaran abu vulkanik adalah sulitnya mendeteksi pergerakan abu yang sudah menipis.

"Itulah bahayanya karena terkadang tidak terdeteksi dan tidak bisa dihindari. Ketika gunung baru saja meletus, densitas abunya masih tinggi dan mudah dideteksi. Tetapi semakin jauh pergerakannya, materialnya ada di udara, namun tidak kelihatan dan tidak terdeteksi oleh radar cuaca pesawat," jelas Alvin.

Langkah penutupan bandara dan pembatalan jadwal terbang merupakan prosedur wajib dan langkah pencegahan utama ketika sebaran abu vulkanik dinilai mulai memasuki wilayah operasi penerbangan. Pemantauan ruang udara yang dilakukan secara ketat menjadi kunci keselamatan agar tidak ada armada penerbangan yang mengambil risiko menembus awan abu vulkanik.

[SB.103/Riskph]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰