SARIBERITA.ID - Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menyelimuti wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kondisi ini menyebabkan jarak pandang pada pagi hari menurun drastis hingga berada di bawah 150 meter.
Pekatnya kabut asap yang terbawa oleh angin hingga ke kawasan permukiman dan ruas jalan utama ini sangat mengganggu aktivitas mobilitas masyarakat sehari-hari. Para pengendara kendaraan bermotor terpaksa harus melambatkan laju kendaraannya demi keselamatan karena pandangan ke depan yang sangat terbatas oleh kepungan asap putih tebal.
Dampak dari kabut asap ini juga mulai dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama terkait dengan gangguan kesehatan pernapasan. Vivi, salah seorang warga sekaligus pengendara di Sampit, mengungkapkan bahwa kondisi kabut asap pada pagi ini terasa jauh lebih pekat jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.
"Ini (kabut asap) terasa lebih pekat dari hari-hari biasanya. Kalau berkendara juga mata sangat perih, sesak bernapas, tenggorokan terasa sangat kering. Berkendara juga harus lebih hati-hati karena jarak pandang terbatas," ujar Vivi menceritakan kondisinya di tengah kepungan asap.
Menyikapi memburuknya kualitas udara dan pekatnya kabut asap tersebut, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat. Warga diimbau untuk selalu menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
Langkah pencegahan ini dinilai sangat penting untuk meminimalisasi risiko terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain menghambat kelancaran arus lalu lintas, kabut asap yang berasal dari sejumlah titik api di Kotawaringin Timur ini terus dikhawatirkan akan memberikan dampak kesehatan jangka panjang bagi masyarakat jika karhutla tidak segera teratasi.
[SB.103/Rskph]





0 Komentar