SARIBERITA.ID, Jakarta - Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah dalam perhelatan akbar International Grand Imams Conference (Konferensi Imam Besar Internasional) 2026. Ajang bergengsi ini menjadi wadah penting bagi para pemimpin Islam dunia untuk berdiskusi terkait berbagai tantangan global yang tengah dihadapi umat, upaya membangun persatuan, hingga memperkuat peran vital masjid di era modern.
Turut hadir membagikan perspektif dan pengalaman negaranya dalam konferensi ini adalah Sheikh Muhammad, Grand Mufti Mozambik dan Negara-Negara Berbahasa Portugis. Mengawali pesannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada Pemerintah Indonesia dan Imam Besar Masjid Istiqlal atas terselenggaranya acara krusial tersebut, seraya mendoakan agar Indonesia dan negara-negara Muslim lainnya selalu dalam lindungan Tuhan dan terus bersatu.
Menjawab tantangan seputar upaya melindungi generasi muda dari pengaruh kelompok bersenjata dan paham radikalisme, Sheikh Muhammad menjelaskan bahwa masjid-masjid di Mozambik memainkan peran edukasi yang sangat komprehensif. Pembinaan kepemudaan yang dilakukan selalu berlandaskan pada ajaran Islam yang moderat.
"Masjid bukan hanya sekadar tempat beribadah. Masjid adalah tempat di mana masyarakat belajar mendisiplinkan kehidupan sehari-hari mereka. Melalui pertemuan lima waktu sehari, umat belajar bagaimana hidup bersih, disiplin, hingga bagaimana berinteraksi dengan orang lain," papar Sheikh Muhammad.
Lebih lanjut, ia mencontohkan bahwa masjid juga secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai politik dan demokrasi. Pemilihan imam dalam salat berjamaah adalah implementasi nyata dari hal tersebut, di mana umat diwajibkan memilih sosok terbaik, paling terpelajar, dan paling mampu untuk memimpin. Di saat yang bersamaan, Islam mengajarkan ketaatan kepada pemimpin terpilih. Praktik inilah yang kemudian diajarkan kepada generasi muda di Mozambik agar kelak mereka mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat dan mematuhi aturan negara.
Selain penguatan dari dalam, perlindungan masyarakat dari perpecahan juga dilakukan melalui kolaborasi lintas agama. Menjawab pertanyaan mengenai upaya menjaga harmoni nasional, Sheikh Muhammad menegaskan bahwa Mozambik memiliki komitmen kuat dalam membina koeksistensi damai antar-komunitas beragama.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini Mozambik memiliki Dewan Agama (Council of Religions), di mana ia sendiri yang menjabat sebagai presidennya. Dalam dewan tersebut, seluruh perwakilan agama yang ada di negaranya—baik itu Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, maupun Baha'i—duduk bersama dan bekerja sama menyatukan visi demi mewujudkan dan menjaga perdamaian di tengah masyarakat luas.
[SB.102/CAHAYA]





0 Komentar