Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

iklan 728 x 90

Dorong Produktivitas dan Industrialisasi, McKinsey Tekankan Pentingnya Daya Saing Menuju "High Income Country" 2045


 SARIBERITA.ID| Indonesia tengah berpacu mengoptimalkan bonus demografi guna mewujudkan visi menjadi negara berpendapatan tinggi (high income country) pada tahun 2045. Meski demikian, bayang-bayang middle income trap atau jebakan kelas menengah masih mengintai apabila kualitas sumber daya manusia (SDM) tidak segera ditingkatkan secara terarah.

Perwakilan konsultan manajemen global McKinsey & Company, Kun, memaparkan evaluasi sekaligus proyeksi ekonomi Indonesia terkait strategi pemanfaatan bonus demografi tersebut. Menurutnya, selama dua dekade terakhir, rata-rata pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia stabil di angka 5 persen per tahun. Pertumbuhan ini ditopang oleh dua faktor pendorong utama, yakni kontribusi dari peningkatan populasi sebesar 2 persen dan kontribusi dari peningkatan produktivitas sebesar 3 persen.

Namun, Kun mengingatkan bahwa keuntungan dari lonjakan jumlah penduduk ini memiliki batas waktu dan akan segera menyusut.

"Ke depan, bonus demografi ini akan semakin berkurang. Kemungkinan kontribusi dari peningkatan populasi yang tadinya 2 persen akan menyusut menjadi hanya 0,5 persen dalam 20 tahun ke depan. Ini adalah pola yang wajar dan sama seperti yang dialami negara-negara berkembang lainnya saat bertransisi menjadi negara maju," ungkap Kun.

Oleh karena itu, agar pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan mampu melompat jauh, Indonesia harus mendongkrak produktivitas secara signifikan. Kun menyebutkan bahwa pertumbuhan PDB yang berasal dari produktivitas harus dinaikkan dari 3 persen menjadi 5 persen, yang berarti dibutuhkan peningkatan produktivitas sekitar 1,6 kali lipat dari posisi saat ini.

Lebih lanjut, Kun membeberkan sejumlah langkah strategis yang mutlak dilakukan Indonesia untuk menggenjot produktivitas tersebut,Indonesia membutuhkan lebih banyak korporasi yang tangguh. Kun menyebutkan perlunya meningkatkan jumlah perusahaan skala menengah dan besar hingga tiga kali lipat. UMKM dan usaha kecil harus terus didorong dan difasilitasi agar bisa naik kelas menjadi perusahaan berskala besar,Di era ekonomi dunia yang saling terhubung, Indonesia tidak bisa sekadar mengandalkan pasar domestik. "Bagaimana kita bisa menarik Penanaman Modal Asing (PMA) ke Indonesia untuk bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan lokal. Tujuannya agar bisnis mereka berkembang bukan hanya di Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari rantai nilai global ke depannya," jelas Kun,Kun menilai bahwa kebijakan hilirisasi (downstreaming) yang sedang digenjot pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang benar. Namun, ia mengingatkan agar langkah tersebut tidak berhenti di tengah jalan. Nilai tambah ekonomi tertinggi justru berada di ujung rantai pasok, yakni fase industrialisasi.

Untuk mencapai tahap industrialisasi tersebut, dibutuhkan kemampuan manufaktur dan teknologi tingkat lanjut (advanced manufacturing and technology).

"Kalau kita melakukan pengembangan teknologi tinggi itu secara organik (sendiri), akan memakan waktu terlalu lama. Jadi, langkah inorganiknya adalah melalui bentuk kerja sama atau partnership. Untuk mewujudkan kemitraan itu, kita harus mempunyai daya saing yang tinggi agar modal asing tertarik masuk ke Indonesia," pungkasnya.[SB.101/R]

Posting Komentar

0 Komentar

Sistem Pengarsipan Digital
✕
✕
☰